Showing posts with label Zone Penegak. Show all posts
Showing posts with label Zone Penegak. Show all posts
MATERI KOMPAS

MATERI KOMPAS

Kompas

01 Jan
Kompas adalah sebuah alat yang berbentuk bulat untuk menetapkan/ menunjukkan arah mata angin. Seorang pengembara dan ahli berkemah, harus mengetahui benar tentang Kompas. Dengan bersemboyan pada Kompas, ia akan dapat mengikuti jalan yang tertera dalam Peta, maka ia tidak akan tersesat dalam perjalanan/pengembaraan.
Bagian-bagian penting dari Kompas:
  1. Dial, adalah permukaan Kompas dimana tertera angka derajat dan huruf mata anqin.
  2. Visir, adalah lubang dengan kawat halus untuk membidik sasaran.
  3. Kaca Pembesar, digunakan untuk melihat derajat Kompas.
  4. Jarum Penunjuk adalah alat yang menunjuk Utara Magnet.
  5. Tutup Dial dengan dua garis bersudut 45° yang dapat diputar.
  6. Alat Penyangkut adalah tempat ibu jari untuk menopang Kompas saat membidik
CARA MEMPERGUNAKAN KOMPAS
  1. Letakkan Kompas di atas permukaan yang datar, setelah jarum Kompas tidak bergerak maka jarum tersebut akan menunjukkan ARAH UTARA MAGNET.
  2. Bidik sasaran meialui Visir, melalui celah pada kaca pembesar, setelah itu miringkan kaca pembesar kira-kira bersudut 50° dengan kaca dial.
Kaca pembesar tersebut berfungsi sebagai:
  1. Membidik ke arah Visir, membidik sasaran
  2. Mengintai derajat Kompas pada Dial.
  3. Apabila Visir diragukan karena kurang jelas terlihat dari kaca pembesar, luruskan garis yang terdapat pada tutup Dial ke arah Visir, searah dengan sasaran bidik agar mudah terlihat melalui kaca pembesar.
  4. Apabila sasaran bidik 30° maka bidiklah ke arah 30°. Sebelum menuju sasaran, tetapkan terlebih dahulu Titik Sasaran sepanjang jalur 30°.  Carilah sebuah benda yang menonjol/tinggi diantara benda lain disekitarnya, sebab route ke 30° tidak selalu datar atau kering, kadang-kadang berbencah-bencah. Di tempat itu kita Melambung (keluar dari route) dengan tidak kehilangan jalur menuju 30°.
  5. Sebelum bergerak ke arah sasaran bidik, perlu ditetapkan terlebih dahulu  Sasaran Balik (Back Azimuth atau Back Reading) agar kita dapat kembali ke pangkalan apabila tersesat dalam perjalanan.
RUMUS BACK AZIMUTH/BACK READING
  1. Apabila sasaran kurang dari 180° = di tambah 180° 0 – 180°  = X + 180°
  2. Apabila sasaran lebih dari 180° = di kurang 180°  180°- 360° = X – 180°
Contoh: Sasaran balik dari
  1. 30°    adalah    = 30° +    180° = 210°
  2. 240°    -”-        = 240° -    180° = 60°
  3. 451 34′ 20″    -”-    = 225°    34′ 20″
  4. 178° 54′ 14    -”-    = 001 °    05′ 45″
MATA ANGIN
U (Utara)    0° atau 360°
UTL (Utara Timur Laut )   22° 30°
TL (Timur Laut)    45°
TTL (Timur  Timur  Laut )   67° 30°
T (Timur)    90°
TMG (Timur Menenggara)    112° 30°
TG (Tenggara)    135°
SMG (Selatan Menenggara)    157° 30°
S (Selatan)    180°
SBD (Selatan Barat Daya)    202° 30°
BD (Barat Daya)    225°
BBD (Barat Barat Daya)    247° 30′
B (Barat)    270°
BBL (Barat-Barat Laut)    290° 30°
BL (Barat Laut)    315°
UBL (Utara Barat Laut )   337° 30′
Benda-benda lain yang dapat digunakan untuk menentukan arah Mata Angin:
1.    Matahari, terbit di Timur dan terbenam di Barat
2.    Masjid, sebagai kiblat menghadap Barat Laut
3.    Bintang, Rasi-rasi bintang pada malam hari.
4.    Kuburan Islam, batu nisan membujur dan Utara-Selatan.
5.    Silet, jika diapungkan di atas air
Menaksir | Materi Pramuka | Tekpram

Menaksir | Materi Pramuka | Tekpram

Menaksir

Menaksir adalah memperkirakan (mengira-ngira) tinggi suatu pohon, lebar sebuah sungai, arus sungai, jarak perjalanan, keadaan cuaca dan mengukur berat suatu benda.
Mengukur suatu tidak dengan perkiraan atau dengan menyebut sebuah bilangan. Perkiraan yang kita buat haruslah didasarkan pada suatu perhitungan dan pada sebuah bilangan yang sudah diketahui. Untuk itu, kita harus mengetahui ukuran diri kita sendiri dengan cara mengetahui :
  1. Ukuran jempol
  2. Panjang dari ujung jempol hingga ujung telunjuk
  3. Panjang dari ujung jempol hingga ujung kelingking
  4. Lebar tangan
  5. Panjang dari pergelangan tangan hingga siku
  6. Panjang telapak kaki
  7. Panjang tangan direntangkan
  8. Panjang langkah kaki
  9. Tinggi badan
  10. Berat badan
Ukuran badan yang sudah kita ketahui, catat dalam buku dan hafalkan di luar kepala. Lebih baik lagi jika kita mempunyai tongkat yang panjangnya 1,6 M.
  • Sendi yang paling ujung Jari Tengah atau Jempol           (1 inci)
  • Jarak antara jempol dengan telunjuk                              (8 inci)
  • Jarak antara jempol dengan kelingking                           (9 inci)
  • Dari pergelangan tangan ke siku, dan juga panjang kaki (10 inci)
  • Dari siku-siku ke ujung telunjuk (disebut cubit)               (17 inci)
  • Dari tengah-tengah tempurung lutut ke tanah                  (18 inci)
  • Kedua tangan lurus ke samping dari ujung jari sampai keujung jari lainnya disebut “vadem” sama dengan  tinggi badan Kita.
  • Denyut darah pada perelangan tangan (pols) kira-kira 75 kali permenit.
  • Satu langkah biasa -+ 2 1/4 kaki
  • Setiap 120 langkah -+ 100 yard
  • Langkah berjalan cepat lebih pendek dari langkah berjalan perlahan
  • Menghitung jarak dapat dihitung dengan kecepatan suara, yaitu kecepatan suara sama dengan jumlah hari dalam setahun (365 hari)
  • Menaksir jarak perjalanan dapat dipergunakan waktu lamanya berjalan yaitu setiap 4 mil = 1 jam
  • Menaksir jarak dengan pandangan :
  1. Pada jarak 50 yard mulut dan mata nampak
  2. Pada jarak 100 yard mata seperti titik
  3. Pada jarak 200 yard kancing dan bagian dari atribut pakaian masih nampak kelihatan.
  4. Pada jarak 300 yard raut muka dapat terlihat
  5. Pada jarak 500 yard warna seragam dapat diketahui
  6. Untuk jarak yang lebih dari tersebut di atas, carilah titik tengahnya dari benda tersebut.
  • Merah pada waktu malam                             = cuaca baik
  • Merah pada waktu pagi akan                         = turun hujan
  • Kuning pada waktu matahari terbenam            = cuaca berangin
  • Kuning pucat pada waktu matahari terbenam   = berarti hujan
  • Embun dari kabut pagi hari                             = cuaca bagus
  • Matahari terbit dari awan yang rendah             = cuaca baik
  • Matahari terbit dari awan yang tinggi               = cuaca berangin
  • Awan halus                                                   = cuaca bagus
  • Awan halus terbatas terang                            = cuaca berangin
  • Awan bergigi                                                 = cuaca berangin kuat
  • Angin sebelum hujan                                     = cuaca baik
  • Hujan sebelum angin                                     = ingat talam dan tali
4. MENAKSIR LEBAR

Menaksir Lebar dengan Rumus : AB = 2 (DE)

Menaksir Lebar dengan Rumus : EF = DF

Masih banyak cara lain untuk mengukur lebar sungai dengan mempergunakan perbandingan-perbandingan ilmu ukur. Misalnya, kalau sungai itu tidak terlalu lebar, lemparkan sebuah batu yang diikat pada seutas tali, sekarang tariklah batu itu, hingga terletak di tepi sungai yang diseberang. Berilah tanda tali yang ada ditangan kita yang terletak di tepi sungai itu. Jarak dari tanda hingga ke batu merupakan lebar sungai yang hendak diukur.
Jagalah supaya tali lurus dan jangan sampai miring letaknya.

5. MENAKSIR TINGGI

Menaksir Tinggi dengan Rumus : AB : AD = BC : DE

Keterangan
AB : Jarak penaksir dengan tongkat
BD : Jarak tongkat dengan pohon
AD : AB + BD
BC : Panjang tongkat
DE : Tinggi Pohon

  1. Letakkan tongkat di air seperti terlihat pada gambar di atas. Setelah tongkat tenang, lemparkan ke air sebatang ranting (harus terapung) atau benda lainnya agak jauh di depan titik (X).
  2. Saat ranting mencapai titik (X) mulailah menghitung waktu yang akan ditempuh sampai titik (Y). Saat mencapai titik (Y) lihatlah berapa waktu tempuh ranting itu dari X ke Y, maka kita dapatkan (T).
  3. Masukkan panjang tongkat dan watu tempuh ke dalam rumus di atas, maka kita akan dapatkan perkiraan besarnya Deras Arus Sungai tersebut.
7. MENAKSIR DALAM SUNGAI

a.Dengan mempergunakan perbandingan llmu Ukur.
Ambil sepotong bambu atau lainnya. Kita berdiri di tepi sungai dan masukkan bambu ke dalam air, hingga membentuk sudut 45° dengan dasar sungai. Panjang sebuah sisi segitiga itu adalah dalamnya sungai.
Persamaan :

b.Dengan mempergunakan Seutas Tali.
Kita berdiri di tepi sungai dengan memegang sebatang bambu. Di ujung bambu kita sangkutkan seutas tali dan pada ujung tali kita gantungkan sebuah batu.
Peganglah bambu itu di atas permukaan air dan luncurkan batu itu ke dalam air. Jika batu itu sudah sampai dasar sungai, maka bagian yang basah dari tali tersebut akan menjadi dalamnya sungai. Kerjakanlah pengukuran ini pada beberapa tempat, agar mendapatkan rata-rata dalamnya sungai.

Menaksir berat suatu benda itu perlu kita ketahui. Misalnya, jika kita pergi ke pasar untuk berbelanja, kita harus dapat menaksir berat ikat yang akan kita beli. Atau kita perlu juga mengetahui untuk menaksir berat perlengkapan berkemah yang akan kita bawa agar kita dapat mengetahui kemampuan badan kita.
Mengukur berat ini memerlukan ketelitian dan hal tersebut tidaklah mudah, perlu latihan terus menerus hingga kita dapat membedakan setiap berat sebuah benda. Untuk melatihnya pertama-tama, ambillah sebuah benda yang beratnya telah diketahui, misalnya sebuah batu yang beratnya 1 Kg, atau ambillah sebuah benda lain yang beratnya juga 1 Kg, yang dipergunakan untuk mengukur berat. Dengan memegang benda ini di tangan yang sebelah, kita mencoba menaksir berat benda yang akan kita timbang dengan tangan yang sebelah lagi. Agar mendapatkan hasilnya, cobalah menimbang barang yang hendak ditimbang itu dengan timbangan. Ulangi percobaan ini beberapa kali, supaya kita mendapat berat yang sebenarnya. Haruslah diingat, bahwa sebuah benda terasa lebih berat di tangan kiri dari pada di tangan kanan.
Baris-Berbaris pramuka

Baris-Berbaris pramuka

Baris-Berbaris

I. PENDAHULUAN
Baris berbaris adalah salah satu wujud latihan fisik yang diperlukan guna menanamkan disiplin mempertebal rasa dan semangat kebangsaan, patriotisme serta rasa tanggungjawab yang tinggi bagi peserta didik sehingga diperoleh sikap lahir (ketegapan, ketangkasan, kelincahan dan kerapihan) dan sikap batin (ketaatan, keikhlasan berkorban, kesetiakawanan dan persatuan) yang diharapkan.

II. MATERI POKOK
1. Aba-Aba
a. Aba-aba adalah perintah yang diberikan oleh seorang pelatih/pemimpin barisan kepada barisan untuk dilaksanakan pada waktunya secara serentak atau berturut-turut.

b. Aba-aba terbagi atas 3 macam yaitu :

Aba-aba peringatan, dipergunakan hanya jika perlu, untuk menegaskan maksud dari aba-aba petunjuk/pelaksanaan.
Contoh :
- “Kepada Pemimpin Upacara” รจ Hormat รจ Grak
- “Untuk Amanat” รจ Istirahat Ditempat รจ Grak

Aba-aba petunjuk, adalah inti perintah yang cukup jelas untuk dapat dilaksanakan tanpa ragu-ragu.
Contoh :
- “Lencang Kanan” รจ Grak
- “Maju” รจ Jalan

Aba-aba pelaksanaan, adalah ketegasan mengenai saat melaksanakan aba-aba petunjuk/peringatan dengan cara serentak atau berturut-turut.
Aba-aba pelaksanaan yang dipakai adalah :
<1> Grak : Dipergunakan untuk gerakan-gerakan tanpa meninggalkan tempat
<2> Jalan : Dipergunakan untuk gerakan-gerakan yang meninggalkan tempat
<3> Mulai : Dipergunakan pada pelaksanaan perintah yang harus dikerjakan berturut-turut.
Dengan catatan apabila meninggalkan tempat itu tidak dibatasi jaraknya, maka aba-aba pelaksanaan harus didahulu dengan aba-aba peringatan “MAJU”.

2. Gerakan Dasar Di Tempat
a. Sikap Sempurna
Aba‑aba : SIAP = GRAK
Pelaksanaan :
Pada aba‑aba pelaksanaan, badan/tubuh berdiri tegak, kedua turnit rapat, kedua kaki membentuk sudut 60°, lutut lurus, dan paha dirapatkan, berat badan dibagi atas dua kaki. Perut ditarik sedikit dan dada dibusungkan, pundak ditarik ke belakang sedikit dan tidak dinaikkan. Lengan rapat pada badan, pergelangan lengan lurus, jari-jari tangan menggenggam tidak terpaksa dirapatkan pada paha, ibu jari menghadap ke depan. Leher lurus, dagu ditarik, mulut tertutup, gigi dirapatkan, mata memandang lurus mendatar ke depan, dan bernapas sewajarnya.
b. Istirahat.
Aba‑aba: ISTIRAHAT DI TEMPAT = GRAK
Pelaksanaan :
Pada aba‑aba pelaksanaan, kaki kiri dipindahkan ke samping kiri dengan jarak sepanjang telapak kaki (± 30 cm). Kedua belah lengan dibawa ke belakang di bawah pinggang, punggung tangan kanan di atas telapak tangan kiri tangan kiri memegang pergelangan tangan kanan di antara ibu jari dan telunjuk serta kedua lengan dilemaskan badan dapat bergerak.

<1> Dalam keadaan parade di mana diperlukan pemusatan pikiran dan kerapian diperlukan aba‑aba petunjuk sebelum aba‑aba peringatan dan pelaksanaan aba‑aba “PARADE ISTIRAHAT DI TEMPAT รจ GRAK”.
Pelaksanaan :
Sama dehgan tersebut di atas, hanya tangan ditarik ke atas sedikit (di pinggang), tidak boleh bergerak, berbicara dan pandangan ke depan.

<2> Dalam keadaan parade maupun bukan parade apabila akan diberikan sesuatu amanat oleh atasan, maka istirahat dilakukan atas : aba‑aba “UNTUK PERHATIAN รจ ISTIRAHAT DI TEMPAT รจ GRAK”
Pelaksanaan :
Sama dengan tersebut pada titik <1>, dan pandangan ditujukan kepada pemberi perhatian/amanat.

<3> Apabila dalam keadaan “ISTIRAHAT DI TEMPAT” yang tidak didahului dengan aba‑aba petunjuk “PARA­DE UNTUK PERHATIAN, diberikan ananat oleh seorang Pembina maka pada waktu diucapkan kata­-kata pertama dari amanat, pasukan secara serentak mengambil sikap sempuma, kemudian kembali me­ngambil sikap, “UNTUK PERHATIAN ISTIRAHAT DI TEMPAT”.
Apabila dalam keadaan ISTIRAHAT DI TEMPAT, seorang Pembina datang untuk memberikan perha­tian ataupun petunjuk‑petunjuk, maka Pembina de­ngan menggunakan “PERHATIAN”, barisan mengambil sikap sempurna tanpa mengucapkan kata siap, kemudian mengambil sikap, UNTUK PERHATIAN รจ ISTIRAHAT DI TEMPAT รจ GRAK.
Pada kata‑kata: PERHATIAN SELESAI ATAU SEKIAN barisan kembali ke sikap sempurna tanpa didahului, aba‑aba, kemudian kembali ke sikap istirahat di tempat.
Maksud dari sikap terakhir ini sebagai jawaban tanpa suara, bahwa petunjuk‑petunjuk yang diberikan oleh Pelatih/Pemimpin barisan akan dijalankan.

c. Lencang Kanan/Kiri (hanya dalam bentuk bersyaf)
Aba‑aba : LENCANG KANAN / KIRI รจ GRAK
Pelaksanaan :
Gerakan ini dijalankan dengan sikap sempurna. Pada aba‑aba pelaksanaan, semua mengangkat lengan kanan/kiri ke samping, jari‑jari tangan kanan/kiri menggenggam, punggung tangan menghadap ke atas. Bersarnaan dengan ini kepala dipalingkan ke kanan/kiri, kecuali penjuru kanan/kiri.
Masing‑masing meluruskan diri sehingga dapat melihat dada teman yang berada di sebelah kanan/kirinya sampai kepada Penjuru kanan/kiri. Jarak ke samping harus sedemikian rupa hingga masing‑masing dengan jari‑jari menyentuh bahu kiri teman yang berada di sebelah kanannya. (Kalau lencang kiri maka masing-masing tangan kirinya menyentuh bahu kanan teman yang ada di sebelah kirinya).
Penjuru kanan/kiri tidak berobah di tempat.

<1> Kalau bersaf tiga maka bagi mereka yang berada di saf tengah dan belakang diwajibkan mengambil antara 1 lengan kanan/kiri ditambah 2 kepalan tangan ke depan dan setelah lurus menurunkan lengan. Aba‑aba adalah lencang kanan/kiri, maka mereka yang mengambil antara depan sarnbil meluruskan barisan pada hakekatnya melakukan: Lencang depan.
Oleh karena itu mereka segera kembali ke sikap sempuma tanpa menunggu aba‑aba: TEGAK=GRAK. Pada aba‑aba: TEGAK=GRAK semua dengan serentak menurunkan lengan dan memalingkan muka kembali ke depan dan berdiri dalam sikap sempurna.

<2> Pada waktu Pemimpin barisan menberikan aba‑aba “LENCANG KANAN/KIRI=GRAK dan barisan sedang meluruskan syafnya, Pemimpin barisan memeriksa kelurusan barisan itu dari sebelah kanan/kiri dengan menitik beratkan pada kelurusan tumit (bukan ujung depan sepatu).


d. Setengah Lencang Kanan/Kiri
Aba‑aba: SETENGAH LENCANG KANAN/KIRI=GRAK.
Pelaksanaan
Seperti pelaksanaan lencang kanan/kiri, tetapi tangan kanan/kiri di pinggang (bertolak pinggang) dengan siku menyentuh lengan teman sebelahnya: pergelangan tangan lurus, ibu jari sebelah belakang dan empat jari lainnya rapat satu dengan lain di sebelah depan.
Pada aba‑aba: TEGAK=GRAK, semua serentak menurunkan lengan dan memalingkan muka kembali ke depan dan berdiri dalam sikap sempurna.
Setengah lengan lencang kanan/kiri ini tidak mempengaruhi kewajiban penjuru saf tengah dan saf belakang untuk mengambil antara sama seperti yang tercantum dalam catatan nomor c. Jika barisan hendak disuruh berjalan dalam bentuk berbanjar menuju ke kanan/kiri, hendaknya sebelumnya diberikan terlebih dahulu aba‑aba LENCANG KANAN=GRAK.
Jika hal ini tidak dilakukan maka jarak yang telah diciptakan tidak dapat menampung langkah biasa yang panjangnya 65 cm.

e. Lencang Depan (hanya dalam bentuk berbanjar)
Aba‑aba: LENCANG DEPAN=GRAK
Pelaksanaan:
Penjuru tetap sikap sempuma: nomor dua dan seterusnya meluruskan ke depan dengan mengangkat tangan/lihat pada keterangan cara melatih berkumpul. Bila berbanjar tiga maka penjuru tengah dan kiri mengambil antara satu lengan dan setelah lurus menurunkan tangan lalu anggota-anggota yang ada di banjar tengah dan kiri, tidak perlu mengangkat tangan, hanya meluruskan terlebih dahulu ke kanan (melihat/memalingkan muka ke kanan) dan setelah lurus memalingkan muka ke depan.
Saf terdepan banjar tengah dan kiri setelah selesai mengambil antara satu lengan (seolah‑olah lencang kanan) wajib segera menurunkan lengannya.

f. Berhitung
Aba‑aba: HITUNG=MULAI
Pelaksanaan :
Jika bersaf, maka pada aba‑aba peringatan, penjuru tetap melihat ke depan, sedang saf terdepan memalingkan muka ke kanan.
Pada aba-aba pelaksanaan, berturut-turut tiap anggota mulai dari penjuru kanan menyebut nomornya sambil memalingkan muka kembali ke depan.
Jika berbanjar maka pada aba-aba peringatan, semua anggota dalam sikap sempurna.
Pada aba-aba pelaksanaan tiap anggota mulai dari penjuru kanan penyebutan nomor diucapkan penuh.
Yang dimaksud dengan pengucapan nomor secara penuh ialah misalnya sebelas dan buka satu-satu, pengucapan nomor harus secara tegas tetapi dengan sopan.
Jika pasukan bersaf/berbanjar tiga, maka yang berada di paling ujung kiri belakang diharuskan mengucapkan LENGKAP atau KURANG SATU/KURANG DUA.

3. Gerakan Berjalan

a. Macam langkah: dapat dibeda‑bedakan sebagai berikut :
Panjang sernua langkah diukur dari tumit ke tumit, bila disebut satu langkah, maka panjangnya 65 cm.
Penetapan macarn langkah panjang dan tempo langkah dianggap perlu untuk kepentingan pengendalian dengan maksud‑maksud tertentu.

<1> Langkah biasa. Dipergunakan untuk bergerak maju dengan panjang langkah serta tempo tertentu. Cara meletakkan kaki di atas tanah adalah dihentakkan, dan tumit yang disusul dengan seluruh tapak kaki, akhirnya ujung kaki meninggalkan tanah pada waktu membuat langkah berikutnya. Waktu mengayunkan kald ke depan, lutut dibengkokkan sedikit.
<2> Langkah tegap. Dipergunakan pada waktu, memberi hormat ataupun waktu persiapan ke arah itu. Berbeda dengan langkah biasa, maka langkah tegap menghendaki lutut lurus dan hentakan kaki yang wajar, tanpa mengurangi panjangnya langkah maupun temponya dengan maksud agar jarak dengan pasukan di belakang tetap terpelihara.
<3> Langkah perlahan. Dipergunakan waktu mengusung/membawa peti jenazah ataupun benda‑benda yang cara membawanya wajib dilakukan secara khidmat. Untuk menghindarkan gerakan naik turun dari jenazah yang diusung/dibawa, maka langkah‑langkah senantiasa ditahan sebentar di sebelah mata kaki yang lain.
<4> Langkah ke samping. Dipergunakan untuk memindahkan barisan/sebagian dari barisan ke kiri/ke kanan. Untuk menghindarkan aba‑aba “BERHENTI”, maka jurnlah langkah dengan batas 4, sekaligus telah diucapkan pada aba‑aba peringatan. Tubuh tetap tegak lurus, dan tidak boleh dimiringkan.
<5> Langkah ke belakang. Dipergunakan untuk memindahkan barisan/sebagian dari sebanyak‑banyaknya empat langkah ke belakang. Selamanya dimulai melangkah dengan kaki kiri. Tubuh tetap tegak, tidak membungkuk.
<6> Langkah ke depan. Dipergunakan untuk memindahkan barisan/sebagian dari barisan sebanyak‑banyaknya empat langkah ke depan. Cara melangkah adalah seperti langkah tegap tetapi dengan tempo yang lebih lambat serta langkah yang pendek, dan lengan tidak melenggang (lenggangan lengan dapat memperbesar panjangnya langkah). Tubuh tetap lurus, tidak boleh membungkuk.
<7> Langkah lari. Dipergunakan untuk mempercepat ge­rakan dari barisan.



b. Panjang dan Tempo Langkah
<1> Dengan kecepatan 120 langkah @ 65 cm tiap menit, barisan dapat mencapai jarak sepanjang 60 X 120 X 65 cm = 4,68 km dalam 1 jam. Dengan ketentuan syarat ketinggian 158 cm bag! barisan, maka untuk sementara panjang langkah 65 cm merupakan langkah yang normal maksimal. Tetapi jika syarat ketinggian telah mencapai 160 cm, maka panjang langkah dapat diperbesar menjadi 70 cm. Bilamana hal ini telah tercapai maka jarak 5 km dapat ditempuh di dalam waktu normal 1 jam; 60 X 120 X 70 cm = 5,04 km.
<2> Pengurangan dari 65 cm meniadi 60 cm dengan tempo yang diperlambat khusus untuk langkah ke depan adalah untuk menjamin sikap yang wajar, karena lengan tidak melenggang.
<3> Dengan maksud yang sama ditentukan pula panjangnya serta temponya dari pada langkah‑langkah perlahan, ke belakang dan ke samping.
<4> Penetapan panjang dan temponya langkah waktu berlari dianggap untuk sementara kemarnpuan norma dari pada barisan. Jarak yang dapat dicapai dalam 1 jam adalah 60 X 165 X 80 cm = 7,92 km.

c. Maju Jalan
Dari sikap Sempurna
Aba‑aba; MAJU=JALAN
Pelaksanaan
<1> Pada aba‑aba pelaksanaan, kaki kiri diayunkan ke depan lutut lurus, telapak kaki diangkat rata sejajar dengan tanah setinggi ± 15 cm, kemudian dihentakkan ke tanah dengan langkah biasa.
<2> Langkah pertama dilakukan dengan melenggangkan lengan kanan ke depan 90°, lengan kiri 30° ke belakang.
Pada langkah selanjutnya lengan atas dan bawah lurus dilegangkan ke depan 45° dan ke belakang 30°. Tangan menggenggam dengan tidak terpaksa. Penjuru kanan depan mengambil satu titik yang terletak dalam satu garis sebagai arah barisan. Seluruh anggota meluruskan barisan pan dengan melihat kepada belakang leher.

Dilarang keras: ‑ berbicara : – berbicara;
- melihat ke kiri/ke kanan.

Pada waktu melenggangkan tangan agar tidak kaku ge­rakannya. Lenggang lengan kanan ke depan pada langkah pertama adalah 90° sedangkan lengan kiri 30° ke belakang. Selan­jutnya lenggangan tangan ke depan adalah 45° dan kebelakang 30°. Hentakan kaki pada langkah pertama hen­daknya dilakukan secara wajar, ujung kaki tidak boleh menghadap ke luar, tetapi kira-kira satu dengan yang lain.
Untuk memelihara kelurusan arah, penjuru kanan melihat jauh ke depan untuk kemudian mengambil dua benda yang satu dengan yang lainnya harus saling menjadi patokan.
Contoh: tiang telepon pada jarak 50 m, kemudian di belakangnya sebatang pohon kelapa pada jarak 75 m sebagai penjuru.

d. Langkah Biasa
Pada waktu berjalan, kepala dan badan seperti pada waktu sikap sempuma. Waktu mengayunkan kaki ke depan lutut dibengkokkan sedikit (kaki tidak boleh diseret).



Kemudian diletakkan ke tanah menurut jarak yang telah ditentukan. Cara melangkah kaki seperti pada waktu berjalan biasa. Pertama tumit diletakkan di tanah selanjutnya seluruh kaki. Lengan dilenggangkan dengan sewajarnya lurus ke depan dan ke belakang di samping badan. Ke depan 45° ke belakang 30°. Jari‑jari tangan digenggang dengan tidak terpaksa, punggung ibu jari menghadap ke atas.
Cara melangkah seperti ini mengurangi bahaya gegar otak atau‑penggunaan tenaga seraya merupakan gerakan berjalan yang biasa dan wajar dilakukan oleh setlap manusia.

e. Langkah Tegap
<1> Darl sikap sempuma.
Aba‑aba: LANGKAH TEGAP MAJU=JALAN.
Pelaksanaan
Mulai berialan dengan kaki kirt langkah pertama selebar setengah langkah selanjutnya seperti jalan biasa (panjang dan tempo) dengan cara kaki dihentakkan terus mencrus tetapi tidak dengan berlebih‑lebihan, telapak kaki rapat dan sejajar dengan tanah, lutut-lutut kaki tidak boleh diangkat tinggi. Bersamaan dengan langkah pertama genggaman tangan dibuka sehingga jari‑jari lurus dan rapat lenggang tangan 90° ke depan dan 30° ke belakang.

<2> Dari langkah biasa
Aba‑aba: LANGKAH TEGAP=JALAN.
Pelaksanaan
Aba‑aba pelaksanaan diberikan pada waktu kaki kiri jatuh di tanah, ditambah satu langkah selanjutnya mulai berjalan seperti tersebut pada butir.

<3> Kembali ke langkah biasa (sedang berjalan)
Aba‑aba: LANGKAH BIASA=JALAN.
Pelaksanaan
Aba‑aba diberikan pada waktu kaki kiri jatuh di tanah ditambah satu langkah dan mulai berjalan dengan langkah biasa, hanya langkah pertama dihentakkan, selanjutnya berjalan seperti biasa.
(1) Pada waktu perobahan dari langkah tegap ke langkah biasa dan sebaliknya, maka perobahan tangan terbuka menjadi mengenggam dan sebahknya dilakukan bersamaan dengan gerakan hentakan kaki.
(2) Dalam keadaan sedang berjalan cukup menggunakan aba‑aba peringatan; LANGKAH TEGAP/ LANGKAH BIASA=JALAN.
Pada tiap‑tiap perobahan langkah (tanpa kata maju).
(3) Langkah tegap hanya dipergunakan pada waktu hendak menyatakan rasa hormat terhadap seseorang yang wajib dihormati.
(a) Pejabat yang berhak menerima penghormatan dengan langkah tegap.
(b) Pejabat yang ada di panggung kehormatan pada waktu upacara‑upacara.
Panjang dan irama serta tempo langkah sama seperti langkah biasa hanya dihentakkan secara wajar dengan tapak kaki yang diayunkan sejajar dengan tanah dan dilakukan dengan lutut lurus. Oleh karena langkah tegap ini menghendaki tenaga, maka jaraknya ditetapkan maksimal 100 m.


f. Langkah Perlahan
1) Untuk berkabung (mengantar jenazah)
Aba‑aba: LANGKAH PERLAHAN‑MAJU=JALAN
Pelaksanaan :
Gerakan dilakukan dengan sikap sempurna. Pada aba‑aba “JALAN”, kaki kiri dilakukan ke depan, setelah kaki kiri menampak di tanah segera disusul dengan kaki kanan ditarik ke depan dan ditahan se­bentar di sebelah mata kaki kiri, kemudian dilanjut­ kan ditapakkan kaki kanan di depan kaki kiri, Gerakan selanjutnya melakukan gerakan-gerakan seperti semula. Dalam keadaan sedang berjalan, aba‑aba adalah LANGKAH PERLAHAN=JALAN yang diberikan pada waktu kaki kiri jatuh di tanah ditambah satu langkah dan kemudian mulai berjalan dengan langkah perlahan.
Tapak kaki pada saat melangkah (menginjak tanah) tidak dihentakkan, tetapi diletakkan rata‑rata untuk lebih khidmat.

2) Berhenti dalam langkah perlahan.
Aba‑aba : HENTI = GRAK
Pelaksanaan :
Aba‑aba pelaksanaan diberikan pada waktu kaki kiri jatuh di tanah Ialu ditambah satu langkah. Selanjutnya kaki kiri menurut irama langkah biasa dan mengambil sikap sempurna.

g. Langkah ke Samping
Aba‑aba : LANGKAH KANAN/KIRI=JALAN.
Pelaksanaan :
Pada aba‑aba pelaksanaan kaki kiri/kanan dilangkahkan ke samping kanan/kiri,sepanjang 400 cm. Selanjutnya kaki kiri/kanan dirapatkan pada kaki kanan/kiri sikap badan tetap seperti Pada sikap sempurna, sebanyak-banyaknya hanya boleh dilakukan empat langkah.

h. Langkah ke Belakang
Aba‑aba : LANGKAH KE BELAKANG=JALAN.
Pelaksanaan :
Pada aba‑aba pelaksanaan kaki kiri melangkah ke belakang menurut panjangnya langkah dan sesuai dengan tempo yang telah ditentukan, menurut jumlah langkah yang diperintahkan. Lengan tidak boleh dilenggangkan dan sikap badan seperti dalam sikap sempuma. Sebanyak-banyaknya hanya boleh dilakukan empat langkah.

i. Langkah ke Depan
Aba‑aba : LANGKAH KE DEPAN=JALAN.
Pada aba‑aba pelaksanaan kaki kiri melangkah ke depan menurut panjang langkah, menurut jumlah langkah yang diperintahkan. Gerakan kaki seperti gerakan langkah tegap dan dihentakkan terus‑menerus. Lengan tidak boleh dilenggangkan dan sikap seperti sikap sempurna sebanyak-banyaknya hanya boleh dilakukan empat langkah.

j. Langkah di Waktu Lari
(1) Dari berhenti
Aba‑aba: LARI‑MAJU=JALAN.
Pelaksanaan :
Pada aba‑aba peringatan kedua tangan dikepalkan dengan lemas dan diletakkan di pinggang sebelah depan dengan punggung tangan menghadap ke luar, kedua siku sedikit ke belakang badan dicondongkan ke depan. Pada aba‑aba pelaksanaan, dimulai lari dengan menghentakkan kaki kiii setengah langkah dan selanjutnya lari menurut panjang langkah dan tempo dengan cara kaki diangkat secukupnya. Telapak kaki diletakkan dengan ujung telapak kaki terlebih dahulu, lengan dilenggangkan secara tidak kaku.

(2) Dari langkah biasa.
Aba‑aba: LARI=JALAN Pelaksanaan
Pada aba‑aba peringatan, pelaksanaannya sama dengan butir a.
Aba‑aba pelaksanaan diberikan pada waktu kaki kiri jatuh ke tanah kemudian ditambah satu langkah, selanjutnya berlari menurut ketentuan yang ada.

(3) Kembali ke langkah biasa.
Aba‑aba: LANGKAH BIASA=JALAN
Pelaksanaan
Aba‑aba pelaksanaan diberikan pada waktu kaki kiri jatuh ke tanah ditambah tiga langkah, kemudian berjalan dengan langkah biasa dimulai dengan kaki kiri dihentakkan; bersamaan dengan itu kedua lengan dilenggangkan.
Untuk berhenti dari keadaan berlari diberikan aba‑aba HENTI=GRAK. Pelaksanaah aba‑aba diberikan pada waktu kaki kiri jatuh di tanah ditambah tiga langkah, selanjutnya kaki dirapatkan kemudian kedua kepalan tangan diturunkan untuk sikap sempurna.

k. Ganti Langkah
Aba‑aba: GANTI LANGKAH=JALAN.
Pelaksanaan
Gerakan dapat dilakukan pada wakju langkah biasa/tegak. Aba‑aba pelaksanaan diberikan pada waktu kaki kiri iatuh di tanah kemudian ditambah satu langkah. Sesudah itu ujung kaki kiri yang sedang di belakang dirapatkan kepada tumit kaki sebelahnya. Bersamaan dengan itu lenggang tangan dihentikan tanpa dirapatkan pada badan. Untuk selanjutnya disesuaikan dengan langkah baru yang disamakan. Langkah pertama hanya sepanjang langkah setengah. Kedua gerakan ini dilakukan dalam satu hitungan.
Yang dimaksud dengan lenggang tangan dihentikan tanpa dirapatkan pada badan ialah bahwa tangan yang sedang berada di depan/di belakang tetap berada di depan/di belakang sampai pergantian langkah selesai. Kemudian dilenggangkan kembali seperti biasa.

l. Jalan di Tempat
1) Dari sikap sempurna.
Aba‑aba: JALAN DI TEMPAT=GRAK,
Gerakan dimulai dengan kaki kiri, lutut berganti-ganti diangkat sehingga paha rata‑rata air (horizontal) ujung kaki maju ke bawah, dan tempo langkah sesuai .dengan tempo langkah biasa. Badan tegak, pandangan mata tetap, ke depan, lengan dirapatkan pada badan (tidak dilenggangkan).

2) Dari langkah biasa.
Aba‑aba : JALAN DI TEMPAT=GRAK.
Pelaksanaan
Aba‑aba pelaksanaan diberikan pada waktu kaki kiri jatuh di tanah kemudian ditambah satu langkah di tempat dan mulai dengan kaki kiri berjalan di tempat.

3) Dari jalan d! tempat ke langkah biasa.
Aba‑aba : MAJU=JALAN.
Pelaksanaan :
Aba‑aba pelaksanaan diberikan waktu kaki kiri iatuh di tanah, kemudian ditambah satu langkah di tempat dan mulai berjalan dengan menghentakkan kaki kiri setengah langkah ke depan dan selanjutnya berjalan biasa.

4) Dari jalan di tempat ke berhenti
Aba‑aba : HENTI=GRAK.
Pelaksanaan :
Aba‑aba pelaksanaan diberikan pada waktu kaki kiri jatuh ke tanah, setelah ditambah satu langkah selanjutnya kaki kiri dirapatkan, kemudian mengambil sikap sempurna.
Catatan :
Kaki satu dengan yang lainnya hendaknya diangkat sejajar.

m. Berhenti

Aba‑aba : HENTI=GRAK.
Pelaksanaan :
Aba‑aba melaksanaan diberikan pada waktu kaki kiri jatuh ke tanah setelah ditambah satu langkah selanjutnya kaki kiri dirapatkan kemudian mengambil sikap sempurna.

n. Hormat Kanan / Kiri
1) Gerakan hormat kanan/kiri
Aba‑aba: HORMAT KANAN/kiri=GERAK
Pelaksanaan
Gerakan ini di lakukan pada waktu berjalan dengan langkah tegap.
Aba‑aba pelaksanaan diberikan pada waktu kaki kiri jatuh di tanah, kemudian ditambah satu langkah. Langkah berikut, Pandangan mata diarahkan kepada yang diberi hormat.
Penjuru kanan/kiri tetap=melihat ke depan untuk memelihara arah. Setelah arah pandangan yang diberi hormat mencapai sudut 450 dari pandangan lurus ke depan, maka kepala dan pandangan mata tetap pada arah tersebut hingga mendapat aba‑aba “TEGAK= GERAK”
Lengan tetap melenggang.

2) Gerakan selesai menghormat.
Aba‑aba: TEGAK=GERAK.
Pelaksanaan
Aba‑aba pelaksanaan diberikan pada waktu kaki kiri jatuh ke tanah. Setelah ditambah satu langkah, langkah berikutnya dihentakkan. Bersaman dengan itu lengan dilenggangkan biasa, muka dan pandangan mata kembali seperti biasa.
Catatan:
Pada waktu memalingkan kepala dagu ditarik.

5. Perobahan Arah
a. Perobahan arah dalam keadaan berhenti.

(1) Hadap kanan/kiri.
Aba‑aba: HADAP KANAN/KIRI=GRAK.


Pelaksanaan:
Kaki kiri/kanan diajukan melintang di depan kaki kanan/kiri, lekuk kaki kiri/kanan berada di ujung kaki kanan/kiii berat badan berpindah ke kaki kiri/kanan. Tumit kaki kanan/kiri dengan badan diputar ke kanan 90°.
Kaki Idri/kanan dirapatkan kembali ke kaki kanan/ kiri seperti keadaan bersiap.

(2) Hadap serong kanan/kiri.
Aba‑aba: HADAP SERONG KANAN/KIRI=GRAK.
Pelaksanaan :
Kaki kiri/kanan diajukan ke muka sejajar dengan kaki kanan/kiri.
Berputar arah 45° ke kanan/kiri
Kaki kiri/kanan dirapatkan kembali ke kaki kanan/ kiri.

(3) Balik kanan.
Aba‑aba : BALIK KANAN = GRAK.
Pelaksanaan :
Pada aba‑aba pelaksanaan, kaki kiri diajukan melintang (lebih dalm dari hadap kanan) di depan kaki‑kanan. Tumit kaki kanan beserta badan diputar ke kanan 180°.
Kaki kiri dirapatkan pada kaki kanan.
Gerakan‑gerakan perobahan arah dalam keadaan berhenti ini tetap digunakan pula sebagai gerakan perobahan arah dalarn keadaan sedang berjalan, dengan keterangan bahwa : Dalam keadaan berhenti maka hitungan ketiga, kaki dirapatkan untuk kembali mengambil sikap sempurna.
Dalam keadaan sedang berhenti ke berjalan, maka waktu melakukan perobahan arah, pada hitungan ke­tiga, kaki kanan/kiri tidak dirapatkan melainkan di­langkahkan ½ langkah dengan hentakan ke arah yang dikehendaki oleh aba‑aba peringatan.

(4) Buka barisan.
Aba‑aba : BUKA BARISAN=JALAN.
Pelaksanaan :
Pada aba‑aba pelaksanaan banjar kanan dan kiri masing‑masing membuat satu langkah ke samping kanan dan. kiri, sedangkan banjar tengah tetap di tempat.

(5) Tutup barisan.
Aba‑aba : TUTUP BARISAN=JALAN.
Pelaksanaan :
Pada aba‑aba Pelaksanaan banjar kanan dan kiri masing‑masing membuat satu langkah kembali ke sarnping kiri dan kanan. Sedangkan banjar tengah tetap di tempat. Buka/tutup barisan hanya dilakukan dalam bentuk barisan berbanjar.
Membuka barisan dengan membuat 1 langkah ke samping masing‑masing oleh banjar kid dan kanan, telah dianggap cukup untuk memberikan tempat berjalan bagi pemeriksa bila hendak melakukan pemeriksaan.

(6) Haluan kanan/kiri.
Aba‑aba : HALUAN KANAN / KIRI=JALAN.
Pelaksanaan :
Setelah aba‑aba pelaksanaan penjuru kanan/kiri berjalan di tempat dengan memutarkan arah secara perlahan‑lahan hingga merobah arah sebesar 90°. Bersaman dengan itu; masing‑masing saf mulai maju jalan dengan rapih lengan tidak melenggang sambil mcluruskan safnya hingga merobah arah 90° kemudiaii berjalan di tempat.
Setelah penjuru kanan/kiri dengan melihat lurusnya saf, ia memberi isyarat : “LURUS”, kemudian Pelatih/ Pemimpin barisan memberi aba‑aba : HENTI=GRAK yang diucapkan pada waktu kaki kiri/kanan jatuh di tanah, setelah ditambah satu langkah kemudian seluruh barisan berhenti.

(7) Melintang Kanan/Kiri
Gerakan ini hanya dilakukan dalam bentuk berbanjar, guna merubah bentuk barisan menjadi bersaf dengan arah tetap.
Aba‑aba : MELINTANG KANAN/KIRI=JALAN.
Pelaksanaan :
Setelah aba‑aba pelaksanaan melakukan gerakan “Hadap kanan/kiri” kemudian barisan membuat gerakan “Haluan kiri/kanan.

b. Perobahan Arah dari Berhenti ke Berjalan

1) Hadap kanan/kiri maju jalan.
Aba‑aba : HADAP KANAN/MAJU=JALAN
Pelaksanaan :
Membuat gerakan hadap kanan/kiri. Pada hitungan ketiga kaki kiri tidak dirapatkan tetapi dilangkahkan seperti gerakan maju jalan.

2) Balik kanan maju jalan.
Aba‑aba : BALIK KANAN MAJU=JALAN
Pelaksanaan :
Pada aba‑aba pelaksanaan, kaki kiri diajukan melintang (lebih dalam dari pada hadap kanan) di depan kaki kanan, turnit kaki kanan beserta badan diputar ke kanan 1800 kaki kiri tidak dirapatkan tetapi dilangkahkan seperti gerakan maju jalan.

3) Belok kanan/kiri maju jalan.
Aba‑aba : BELOK KANAN/KIRI MAJU=JALAN.
Pelaksanaan :
Penjuru depan merobah arah 90° ke kanan/kiri dan mulai berjalan ke arah tertentu. Lainnya mengikuti gerakan ini setibanya pada tempat belokan tersebut.
Aba‑aba : DUA KALI BELOK KANAN/KIRI=JALAN.
Pelaksanaan :
Seperti tersebut di atas yang selanjutnya setelah dua langkah berjalan kemudian melakukan gerakan belok kanan/kiri jalan lagi.
Aba‑aba : TIAP‑TIAP BANJARAN DUA KALI BELOK KANAN/KIRI=JALAN.
Seperti tersebut di atas, tetapi tiap‑tiap banjar membuat langsung dua kali belok kanan/kiri pada tempat di mana aba‑aba pelaksanaan diberikan . Perobahan arah ini 180°.
Tujuan gerakan dari catatan a dan b guna membelokkan barisan di ruang/lapangan yang sempit.

4) Bubar.
Aba‑aba : BUBAR=JALAN.
Pada aba‑aba pelaksanaan, barisan serentak memberi hormat kepada pimpinan barisan. Sesudah dibalas kembali mengambil sikap sempuma kemudian melakukan “BALIK KANAN GRAK” dan setelah menghitung dua hitungan dalam hati melakukan gerakan seperti langkah pertama Ialu bubar.

5) Haluan kanan/kiri.
Aba‑aba : HALUAN KANAN/KIRI MAJU=JALAN
Pelaksanaan :
Seperti haluan kanan/kiri dari gerakan perubahan arah dalam keadaan berhent~ kemudian setelah ada “Lurus” dari penjuru Pelatih/Pemimpin barisan memberi aba‑aba : Maju=JALAN, barisan maju jalan dan gerakannya seperti gerakan langkah biasa.

6) Melintang kanan/kiri.
Aba‑aba : MELINTANG KANAN/KIRI=JALAN.
Pelaksanaan :
Seperti melintang kanan/kiri dari gerakan perubahan arah dalam keadaan berhenti, kemudian setelah penjuru memberi aba‑aba “LURUS” Pelatih/Pemimpin barisan memberi aba‑aba “MAJU=JALAN”, barisan melaksanakan gerakan Maju Jalan.

c. Perobahan Arah dari Berjalan ke Berjalan

1) Hadap kanan/kiri maju jalan.
Aba‑aba : HADAP KANAN/KIRI MAJU=JALAN.
Pelaksanaan :
Aba‑aba pelaksanaan dijatuhkan pada waktu kaki kiri/kanan jatuh ke tanah, kemudian ditaMbah satu lang­kah gerakan selanjutnya seperti gerakan perubahan arah dari berhenti ke berjalan.

2) Balik kanan maju jalan.
Aba‑aba : BALIK KANAN MAJU=JALAN.
Pelaksanaan :
Aba‑aba pelaksanaan dijatuhkan pada waktu kaki kiri/kanan jatuh ke tanah, kemudian ditambah satu/dua langkah, gerakan selanjutnya kaki kiri melintang ke depan kaki kanan, secara bersamaan tumit kaki kanan dan badan berputar 180°, kaki kiri dihentakkan seperti langkah pertama, selanjutnya berjalan seperti langkah biasa.

3) Belok kanan/kiri.
Aba‑aba : BELOK KANAN/KIRI = JALAN.
Pelaksanaan :
Aba‑aba pelaksanaan dijatuhkan pada saat kaki kiri/kanan jatuh di tanah setelah ditambah satu langkah, kemudian penjuru depan merobah arahnya 90° ke kanan/kiri dan mulai berjalan ke arah yang baru. Lain­nya mengikuti gerakan ini setibanya pada tempat belokan tersebut.
Pelaksanaan :
Seperti tersebut di atas yang selanjutnya setelah dua langkah bedalan kemudian melakukan gerakan belok kanan/kiri jalan lagi.
Aba‑aba : TIAP‑TIAP BANJAR DUA KALI BELOK KANAN/KIRI JALAN.
Seperti tersebut di atas, tetapi tiap‑tiap banjar membuat langsung dua kali belok kanan/kiri pada tempat di mana aba‑aba pelaksanaan diberikan perobahan arah ini 180°.
Tujuan gerakan guna membelokkan barisan di ruang / lapangan yang sempit.

4) Haluan kanan/kiri maju jalan
Aba‑aba : HALUAN KANAN/KIRI MAJU=JALAN.

Pelaksanaan :
Aba‑aba pelaksanaan dijatuhkan pada waktu kaki kanan/kiri jatuh ke tanah dan, kemudian ditambah satu langkah. Selanjutnya melakukan gerakan seperti pada perubahan arah dari berhenti ke berjalan.
Perubahan arah pada waktu berjalan yang telah ditentukan di muka dapat dilakukan juga oleh barisan dalam keadaan berlari dengan perbedaan bukan ditambah satu/dua langkah, tetapi tiga langkah.

5) Melintang kanan/kiri
Aba‑aba : MELINTANG KANAN/KIRI MAJU
Pelaksanaan :
Setelah aba‑aba pelaksanaan, dan ditambah satu langkah, barisan melakukan gerakan seperti pada perubahan arah dari berhenti ke berjalan.

d. Perobahan Arah dari Berjalan ke Berhenti
1) Hadap kanan/kiri berhenti
Aba‑aba : HADAP KANAN/KIRI HENTI=GRAK.
Pelaksanaan :
Aba‑aba pelaksanaan dijatuhkan pada waktu kaki kiri/ kanan jatuh di tanah, kemudian ditambah satu langkah, gerakan selanjutnya.
a) Kaki kiri/kanan diajukan melintang di depan kaki kanan/kiri, lekuk kaki kiri/kanan berada di ujung kaki kanan/kiri, berat badan berpindah ke kaki kiri/kanan.
b) Tumit kaki kanan / kiri dengan badan diputar ke kanan/kiri 90°.
c) Kaki kiri/kanan dirapatkan kembali ke kaki kanan/kiri seperti keadaan bersiap.

2) Hadap serong kanan/kiri
Aba‑aba : HADAP SERONG KANAN/KIRI HENTI = GRAK.
Pelaksanaan :
Aba‑aba pelaksanaan dijatuhkan pada waktu kaki kiri/kanan jatuh di tanah, kemudian ditambah satu langkah, gerakan selanjutnya :
a) Kaki kiri/kanan diajukan ke muka sejajar dengan kaki kanan/kiri.
b) Berputar arah 45° ke kanan/kiri.
c) Kaki kiri/kanan dirapatkan kembali ke kaki kanan/kiri.

3) Balik kanan berhenti Aba‑aba: BALIK KANAN HENTI=GRAK. Pelaksanaan Aba‑aba pelaksanaan diberikan pada waktu kaki kiri/ kanan jatuh di tanah, kemudian ditambah satu/dua langkah, gerakan selanjutnya.
a) Kaki kiri diajukan melintang (lebih dalam dari hadap kanan) di depan kaki kanan.
b) Tumit kaki kanan beserta dengan badan diputar ke kanan 180`.
c) Kaki kiri dirapatkan pada kaki kanan.

4) Haluan kanan/kiri
Aba‑aba: HALUAN KANAN/KIRI=JALAN.
Pelaksanaan :
Aba‑aba pelaksanaan diberikan pada waktu kaki kanan/kiri jatuh di tanah, kemudian ditambah satu langkah, selanjutnya barisan melakukan gerakan se­bagai berikut.
a) Penjuru kanan/kiri berjalan di tempat dengan memutar arah secara perlahan‑lahan sehingga merobah arah sampai sebesar 90°.
b) Bersamaan dengan itu masing-masing saf mulai maju jalan dengan rapih sambil meluruskan safnya hingga merobah arah sebesar 90°, kemudian berjalan di tempat.
c) Setelah Penjuru kanan/kiri depan melihat lurusnya saf, ia memberi isyarat “LURUS”, kemudian Pelatih/Pemimpin barisan memberi aba‑aba “HENTI=GRAK” Yang diucapkan pada waktu kaki kiri/kanan jatuh di tanah. Setelah ditambah satu langkah kaki kiri/kanan dirapatkan pada kaki kanan/kiri dan mengambil sikap sempurna.

5) Melintang kanan/kiri
Aba‑aba : MELINTANG KANAN/KIRI=JALAN.
Pelaksanaan :
Aba‑aba pelaksanaan dijatuhkan pada waktu kaki kiri/ kanan jatuh di tanah, setelah ditambah satu langkah bariisan selanjutnya melakukan gerakan “Hadap kanan/kiri” dan kemudian melakukan gerakan Haluan kanan/ kiri.

III. PENUTUP
Baris berbaris adalah salah satu wujud latihan fisik guna menanamkan disiplin yang diarahkan kepada terbentuknya suatu watak tertentu dan latihan awal bagi peserta didik dalam rangka bela negara, sesuai dengan hak dan kewajiban setiap warga negara Indonesia seperti yang tercantum dalam Undang-Undang Dasar 1945.
Macam Bentuk Barisan Upacara Pramuka Siaga,Penggalang,Penegak

Macam Bentuk Barisan Upacara Pramuka Siaga,Penggalang,Penegak

Macam Bentuk Barisan Upacara Pramuka Siaga,Penggalang,Penegak

barisan2
Macam Bentuk atau formasi barisan dalam Gerakan Pramuka siaga penggalang dan penegak masing masing berbeda, sebagai mana telah di atur berdasarkan PP tentang Upacara dalam Gerakan Pramuka.
Bahwa semua upacara dalam Gerakan Pramuka mengandung unsur-unsur pokok tertentu, salah satunya adalah bentuk barisan menurut golongannnya ( S, G, T dan D )
Bentuk barisan yang digunakan oleh peserta upacara ( Pada Upacara Pembukaan dan Penutupan Latihan ) selalu disesuaikan dengan perkembangan jiwa peserta didik.
Berikut Bentuk barisan  dalam gerakan pramuka sesuai pramukanet.org adalah sbb :

1)  Bentuk barisan upacara di satuan Pramuka Siaga adalah lingkaran, karena perhatian dan perkembangan jiwanya masih terpusat  pada orang tua/ Keluarga atau Pembina.
barisan perindukan siaga
2)   Bentuk barisan upacara di satuan Pramuka Penggalang adalah bentuk angkare, karena perhatian dan perkembangan jiwanya telah mulai terbuka.
barisan pasukan penggalang
3)   Bentuk barisan upacara di satuan Pramuka Penegak dan Pramuka Pandega adalah bersaf, karena perhatian dan perkembangan jiwanya sudah terbuka luas.
barisan ambalan 3
Apabila peserta upacara itu terdiri dari dua golongan atau lebih, maka bentuk barisan yang digunakan ditentukan oleh pimpinan upacara atau pengatur upacara sesuai dengan keadaan setempat, Seperi Upacara pindah golongan, upacara peringatan hari besar/ hari Pramuka dll
8 Makanan Yang Bisa Dimakan Pramuka Saat Di Hutan

8 Makanan Yang Bisa Dimakan Pramuka Saat Di Hutan

8 Makanan Yang Bisa Dimakan Pramuka Saat Di Hutan

makanan hutan
Jenis tumbuhan dan hewan yang bisa dimakanan bagi petualang seprti pramuka ketika berada di alam bebas ” hutan, gunung” adalah bekal pengetahuan penting yang harus di miliki oleh setiap individu pramuka atau survival yang sering berpetualang menyambangi hutan liar dan gunung.
Dibutuhkani ilmu Biologi dan Zoologi praktis bagi pramuka untuk membedakan makanan mana yang aman dan berbahaya jika dikonsumsi di alam bebas ketika dalam kondisi dan keadaan tertentu di alam terbuka.
Salah satu penunjang bagi perlindungan tubuh yang berasal dari dalam tubuh adalah makanan yang dibutuhkan untuk menambah kalori, memberikan tenaga pada otot, and mengganti sel – sel yang rusak. Inilah Sumber – sumber makanan yang bisa dimakan ketika berada di hutan versi majalah pramuka online tunaskelapa.com yang bisa anda jadikan bahan pengetahuan sebelum memulai petualangan :
1. Larva kumbang
. Biasanya larva ini hidup di dalam kayu yang membusuk. Mereka bisa disantap langsung. Namun bila jijik, silakan dibakar di atas kayu bakar.
2. Burung
 Semua jenis burung bisa dimakan, Anda bisa membakarnya di atas api unggun sebelum dimakan.Tapi ada satu hal yang perlu diperhatikan. Jangan pernah memakan burung pemakan bangkai, seperti burung nasar karena rasanya tidak enak
3. Rayap
Serangga yang biasa ditemukan di kayu ini bisa dimakan. Ada yang mengatakan rasanya seperti selai kacang Rayap juga menjadi pilihan makanan yang baik karena mengandung protein yang cukup tinggi
4. Katak
Biasanya bagian yang diambil adalah kaki karena memiliki daging yang tebal. Namun, ada hal yang penting diingat sebelum menyantap katak. Jangan lupa untuk menguliti tubuhnya sebelum dimakan.
5. Kadal dan ular
Kaki belakang dan ekor kadal adalah bagian terbaik untuk dimakan. Namun, jika Anda ingin memakan ular, sebaiknya segera potong kepalanya setelah dimatikan karena inilah bagian paling berbahaya.
6. Jangkrik dan belalang
 Jangkring dan belalang adalah cemilan di beberapa negara di dunia, seperti Thailand. Bahkan, warga Gunung Kidul di Yogyakarta pun menjadikan belalang sebagai salah satu bahan makanan.
7. Semut
 Selain jangkrik dan belalang, serangga lain yang bisa Anda jadikan bahan makan adalah semut. Di Thailand, semut adalah salah satu makanan yang dianggap paling lezat. Kumpulkan semut yang ada di hutan, kemudian bakar atau pun goreng di atas wadah.
8. Makanan dari tumbuhan
Tumbuhan terutama memberikan karbohidrat dan seratnya memperlancar pencernaan.
Contoh tumbuhan yang dapat dimakan :
  •  Umbi : talas, kentang, besusu, paku tanah
  •  Batang : umbut muda pisang, sagu, rumput madu, rebung.
  •  Buah : kelapa, arbei, strawbery hutan, nipah, dll
  •  Biji : padi, jagung, rumput teki madura
  •  Bunga : turi, pisang
  • Daun : rasamala, melinjo, tangkai dan daun begonia ,daun selada air ( arnong )
  • Tunas / pucuk : cemara.
Berati- hatilah saat memilih dan mengetahui makanan yang bisa di konsumsi aman di alam bebas
Cara Unik Menetukan Arah Saat Tersesat Di Hutan Malam Hari

Cara Unik Menetukan Arah Saat Tersesat Di Hutan Malam Hari

Cara Unik Menetukan Arah Saat Tersesat Di Hutan Malam Hari

Ilustrasi Merdeka.com
Ilustrasi Merdeka
Mencari jalan keluar ketika kehilangan arah atau tersesat di tengah hutan atau gunung ketika berpetualang atau mencari jejak “SAR”  adalah hal yang paling menakutkan, dengan penerangan yang nyaris tidak ada serta perlengkapan alat (Kompas) yang mungkin tidak terbawa atau rusak sangat sulit untuk kita tahu arah utara dan selatan.
Untuk bisa keluar dari gelapnya hutan saat malam hari yang segala kemungkinan buruk bisa terjadi seperti gangguan binatang buas, terperosok ke jurang serta bahaya lainya maka kalian di tuntut harus cepat menemukan cara agar bisa selamat seperti meminta pertolongan dengan membuat sandi morse dari alat seadanya seperti asap api unggun atau bunyi bunyian yang bisa terdengar sampai jauh.
Bila bantuan tak kunjung datang maka lakukanlah cara cara berikut untuk keluar dari gelapnya hutan saat tersesat.
1. Jarum/Silet di permukaan air
 Ada cara yang paling umum digunakan seseorang untuk menentukan arah, yaitu membuat kompas sederhana. Caranya mudah, hanya bermodalkan jarum atau silet yang digosok ke permukaan kering, dan ditusukkan ke gabus. Gabungan silet dan gabus kemudian diletakkan di atas permukaan air, sehingga terlihat mengapung. Ujung silet atau jarum pada kompas sederhana ini selalu menunjuk ke arah utara atau selatan.
 
2. Melihat kuburan Islam dan Kristen
 Jika berada di suatu pedesaan yang asing dan tersesat di sana. Anda bisa menentukan arah dengan melihat kuburan. Kuburan Islam dan Kristen selalu menunjukkan arah utara-selatan. Bagian nisan atau kepala yang selalu menghadap ke barat. Jadikanlah ini sebagai patokan dasar.
 
3. Masjid/Musholla
 Jika tidak menemukan kuburan, Anda bisa mencari tempat ibadah, seperti masjid. Anda bisa memanfaatkan arah kiblat atau arah sholat umat muslim. Di Indonesia, masjid selalu menghadap ke arah barat, karena ka’bah yang dijadikan kiblat umat muslim berada di barat Indonesia. Manfaatkan ini sebagai patokan dasar menentukan arah selanjutnya.
 
4. Memanfaatkan pohon
 Nah, untuk Anda yang tersesat di kawasan penuh pepohonan, cobalah cari pohon yang berbatang besar. Perhatikan setiap sisi batang pohon ini. Sisi pohon berbatang besar yang terkena sinar matahari dan tidak berlumut menunjukkan arah barat/timur. Jika tersesat pada malam hari, coba raba sisi pohon berbatang besar ini, dan rasakan suhunya. Cari sisi pohon yang terasa paling hangat. Sisi ini menunjukkan arah barat.  
5. Kelompok bintang Orion menunjukkan arah barat
Hal yang paling menakutkan adalah tersesat di daerah asing pada malam hari. Saat itu penerangan sangat minim, ditambah tidak adanya kompas, bisa membuat siapa saja panik. Tapi coba manfaatkan keindahan alam lewat taburan bintang di langit. Carilah rasi bintang orion. Rasi bintang ini merupakan perpaduan 3 bintang terang. Jika dipadukan, ketiganya membentuk mirip ekor kalajengking dan selalu menunjuk ke arah barat.
Catatan: Lakukanlah penandaan di pohon atau batu yang telah di lewati, agar tidak mengulang jalan yang sama terus menerus
 Contoh Naskah Pidato Singkat Bahasa Inggris Pradana Pramuka

Contoh Naskah Pidato Singkat Bahasa Inggris Pradana Pramuka

Contoh Naskah Pidato Singkat Bahasa Inggris Pradana Pramuka


OLYMPUS DIGITAL CAMERA
Pidato atau sambutan memang sangat identik dengan acara besar dan resmi, seperti hari kemerdekaan, perpisahan, ulang tahun atau acara sekolah dan pramuka  seperti pidato pembukaan jabore dll.
namun sayangnya bagi sebagian orang pidato adalah hal yang paling susah dan menakutkan, tak jarang jika seseorang menolah jika di suruh untuk mengisi sambutan atau berpidato dengan berbagai alasan.
ada 2 jenis dalam berpidato singkat atau mengisi sambutan
1.pidato memakai bahasa indonesia
2. memakai bahasa inggris.
Nah yang paling susah adalah jika sesorang harus berpidato dengan bahasa inggris karena para tamu undangan yang hadir kebanyakan dari luar negri sedangkan untuk merangkai kata dalam bahasa indonesia masih susah .
Berikut contoh naskah pidato versi bahasa inggriss yang di buat oleh siswa MTS N Talaga Majalengka Rosi Nasution.
 Assalamualaikum wr wb
First of all I would like to ask you “Are happy? Are you happy?” Yes, we are happy.
Thanks to Allah, the only one supreme God, shalawat and regard to Prophet Muhammmad SAW, his closed friends, family and to all of us as his followers.
Dear, big brothers and sisters and all friends of the scouts family, let scream a yell for the glory of Indonesian scout. Go Indonesian scouts,… Go Indonesian scouts,… Go Indonesian scouts,….
Dear, big brothers and sisters and all friends of the scouts family, in here, we are gathering not for having fun or going picnic, but we are prepared to implement the ten principles of scout, known as dasa darma pramuka. The principles guide us to be relegious, discipline, skilled, having good hospitality,  thrift, and cheerful. And we know that it is not easy to come along with them.
We have to dare to say “ We’re ready to come along with the principles” and immediately, we do them but not only in this situation but also in our daily life. The soul of scout should be always existing in our feelling and mind. Now, let ask ourselves how far we go with the principles. If we are too far away from them, from now, let’s take the first step the get the better life with the better quality human.
Being scouts, is not merely a tradition of a nation living in certain country. We need scouts, and need to be a scouts Because we need to keep upgrading our life. And the values of the ten scout principles will help us.
Dear, big brothers and sisters and all friends of the scouts family,
We know that we are good boy scouts and girl scouts. And were all happy people.
Thank you.
Assalamualikum wr wb.
Semoga bermanfaat untuk andik andik pramuka semuanya

sumber www.tunaskelapa.com
Fungsi Dan Alasan Pramuka Memakai Tongkat

Fungsi Dan Alasan Pramuka Memakai Tongkat

Fungsi Dan Alasan Pramuka Memakai Tongkat

tongkat pramuka
Tongkat pramuka memiliki ukuran panjang 160 cm dan diameter 5 Cm ini memiliki banyak fungsi untuk anak pramuka siaga, penggalang. Tongkat berbahan bambu atau kayu yang selalu di bawa oleh anak pramuka ini tidak semata-mata untuk bergaya atau asesoris yang tidak memiliki arti dan tujuan.
Alasan mengapa pramuka memakai tonkat??,
Pramuka itu sangat dekat dengan alam sehingga tak jarang anak pramuka menelusuri alam bebas atau mengembara ke hutan, gunung dalam kegiatanya, maka seorang pramuka memerlukan alat dan senjata yang mempunyai multi fungsi.
Berikut adalah daftar 17 kegunaan tongkat pramuka versi majalah pramua TunasKelapa.com, diantaranya :
  1. Sebagai tiang tenda/tenda darurat (bivac).
  2. Sebagai tiang bendera.
  3. Sebagai tempat sepatu.
  4. Sebagai alat penghalau hewan liar, misalnya untuk anjing galak.
  5. Untuk menyebrangi selokan (pendek dan dangkal).
  6. Sebagai tiang jemuran.
  7. Untuk membuat tandu (blankar/ dragbar).
  8. Untuk membuat jembatan kecil.
  9. Untuk memadamkan api.
  10. Untuk membantu mengukur jarak, tinggi, dsb.
  11. Sebagai kawan diwaktu mendaki.
  12. Sebagai alat berpegang di malam hari agar tidak mudah tergelincir.
  13. Untuk beristirahat (bisa untuk duduk/dibuat kursi darurat.
  14. Untuk kelengkapan baris-berbaris.
  15. untuk alat bela diri.
  16. Untuk memanjat tembok yang tinggi.
  17. Untuk mengukur dalamnya suatu kolam, dan masih banyak lagi.
Maka gunakan dan rawatlah tongkat pramuka yang kamu miliki  dengan baik, layaknya  sodaramu sendiri. Karena banyak sekali manfaat yang bisa kamu dapat. (
Daftar Alat dan Cara Pengiriman Isyarat Dengan Morse

Daftar Alat dan Cara Pengiriman Isyarat Dengan Morse

Daftar Alat dan Cara Pengiriman Isyarat Dengan Morse

18112012_perkempinas_pramuka
Mengirimkan informasi atau berkomunikasi dari jarak jauh dalam pramuka dengan menggunakan alat sederhana seperti sandi morse, simapore dll memang harus di kuasai oleh seorng pramuka, banyak sekali  manfaat dan kegunaan alat komunikasi seperti ini.
Manfaat mempelajari morse.
1. Bisa berkomunikasi dengan teman ketika berjauhan di tengah hutan atau alam bebas denag menggunakan senter.
2. Bisa meminta pertolongan jika tersesat atau menjumpai bahaya ketika di tengah hutan dengan menggunakan asap.
3. Rahasia terjaga apa bila mengirim lewat telegram atau surat.
4. Masih banyak banget yang lainya.
Nah lantas alat apa sajahkah yang biasa atau bisa di gunakan untuk berkomunikasi dengan menggunakan sandi morse?.
Berikut tunaskelapa.com informasikan Daftar Alat dan Cara Pengiriman Isyarat dengan Morse untuka anda sebagai bahan materi mengajar pramuka atau sebagai pengetahuan anda sendiri.

ALAT
CARA
Peluit Bunyi Panjang dan Pendek
Bendera Kibaran Panjang dan Pendek
Api/ Cahaya Nyala Pendek dan Panjang
A s a p Gumpalan Kecil dan Besar
Telegrap Tulisan Titik dan Garis
Cermin dengan bantuan cahaya matahari Sinar Sebentar dan Lama
Demikian Daftar Alat dan Cara Pengiriman Isyarat dengan Morse emoga bermanfaat
Daftar Macam Macam Tepuk Pramuka

Daftar Macam Macam Tepuk Pramuka

Daftar Macam Macam Tepuk Pramuka

TEPUK PRAMUKA
Dokumentasi rahedimasi7374
Tepuk Pramuka Dalam materi pelajaran pramuka siaga maupun penggalang sangat bermacam macam, mulai dari  tepuk pramuka, Tepuk Prestasi, Tepuk sate,Tepuk Panca Indra. Tepuk pramuka juga di ajarkan di sekolah taman kanak kanak(TK)  dan Sekolah Dasar(SD) sebagai game pelajaran agar anak anak tidak jenuh saat belajar.
Ada banyak sekali jenis dan macam macam tepuk pramuka atau permainan tepuk yang biasa di mainkan oleh anak pramuka siaga dan penggalang, dan biasanya tepuk pramuka di barengi dengan nyanyian atau sir pendek yang bertema pendidikan atau pengetahuan.
Berikut daftar macam tepuk pramuka yang bis anda pelajarai atau dijadikan sebagai bahan untuk diajarkan ke anak didik anda yang di rangkum oleh  TunasKlapa.com  dari berbagai sumber di perpustakan.
Tepuk Empat Kali
Tepuk 4X sambil berhitung satu, dua, tiga, empat
Kaki rapat, tangan di lipat, mulut di kunci, cekrek.
Tepuk Prestasi
Tepuk 1X satu
Tepuk 2X satu dua
Tepuk 3X satu dua tiga
Tepuk 4X satu dua tiga empat
Bisa, bisa Yess
Tepuk Anak Pintar
Tepuk 3X Aku anak pintar
Tepuk 3X Tidak Boleh nakal
Tepuk 3X Patuh orang tua
Tepuk 3X patuh guru kita
Oyeah.
Tepuk Diam
Tepuk 3X Bila aku
Tepuk 3X Sudah tepuk
Tepuk 3X maka aku
Tepuk 3X harus diam
One, two, three, four Yes
Tepuk Rapi
Tepuk 3X Rapi Kanan
Tepuk 3X Rapi kiri
Tepuk 3X rapi semuanya
Yess
Tepuk Islam
Tepuk 3X Tuhanku
Tepuk 3X Allah
Tepuk 3X Kitabku
Tepuk 3X Al Qur’an
Tepuk 3X Nabiku
Tepuk 3X Muhammad
Tepuk 3X Agamaku
Tepuk 3X Islam
Tepuk Cinta
Tepuk 3X Pertama aku cinta pada Allah
Tepuk 3X Kedua aku cinta Rasullullah
Tepuk 3X Ketiga Aku cinta kepada Ayah Bunda, semoga aku masuk surga
Tepuk 3X Amin, amin, Yess
Tepuk Anak Soleh
Tepuk 3X Aku
Tepuk 3X Anak Soleh
Tepuk 3X rajin sholat
Tepuk 3X Rajin ngaji
Tepuk 3X Orang tua
Tepuk 3X Dihormati
Tepuk 3X Cinta Islam
Tepuk 3X sampai mati
Laillahailallah Muhammaddarusulullah
Islam islam Yess
Tepuk Wudlu
Tepuk 3X Kumur-kumur basuh muka basuh tangan
Tepuk 3X kepala dan telinga terakhir cuci kaki lalu doa
Tepuk 3X yess
Tepuk Badut
Tepuk 3X mata besar
Tepuk 3X hidung tomat
Tepuk 3X perut gendut
Tepuk 3X goyang-goyang
Tepuk Ondel-ondel
Tepuk 3X Ondel-ondel
Tepuk 3X badan besar
Tepuk 3X rambut jagung
Tepuk 3X kalau jalan
Tepuk 3X timplang timplung timplang timplung
Tepuk Ayam
Tepuk 3X piyik-piyik
Tepuk 3X Petok-petok
Tepuk 3X Kukuruyuk
Tepuk Kambing
Tepuk 3X mbek embek
Tepuk 3X embek embek
Tepuk 3X mbeeeek
Tepuk Ikan
Tepuk 3X berenang
Tepuk 3X cari makan
Tepuk 3X sudah kenyang
Tepuk 3X diam
Tepuk sate
Tepuk 3X di iris-iris
Tepuk 3X disunduki
Tepuk 3X dibakar
Tepuk 3X Sate
Tepuk tempe
Tepuk 3X di idak-idak
Tepuk 3X dibunteli
Tepuk 3X di dol
Tepuk empat sehat lima sempurna
Tepuk 3X nasi
Tepuk 3X lauk pauk
Tepuk 3X sayuran
Tepuk 3X buah-buahan
Tepuk 3X susu
Tepuk Panca Indra
Tepuk 3X mata
Tepuk 3X hidung
Tepuk 3X telinga
Tepuk 3X lidah
Tepuk 3X kulit
Tepuk Mata
Tepuk 3X lirik kanan
Tepuk 3X lirik kiri
Tepuk 3X mata
Tepuk tanaman
Tepuk 3X akar
Tepuk 3X batang
Tepuk 3X daun
Tepuk 3X bunga
Tepuk 3X buah
Tepuk Mobil
Tepuk 3X naik mobil
Tepuk 3X pegang setir
Tepuk 3X tekan klakson
Tepuk 3X din din din
Tepuk telepon
Tepuk 3X kring kring kring kring
Tepuk 3X kring kring kring kring
Tepuk 3X Hallo
Tepuk Huruf vokal
Tepuk 3X a
Tepuk 3X i
Tepuk 3X u
Tepuk 3X e
Tepuk 3X o
Tepuk Rasa
Tepuk 3X ada asam
Tepuk 3X ada asin
Tepuk 3X ada manis
Tepuk 3X ada pahit
Tepuk 3X macam-macam rasa
Tepuk keluarga
Tepuk 3X ada ayah
Tepuk 3X ada ibu
Tepuk 3X ada kakak
Tepuk 3X ada adik
Tepuk 3X keluarga
Tepuk Tertawa huruf vokal
Tepuk 3X ha ha ha ha
Tepuk 3X hi hi hi hi
Tepuk 3X hu hu hu hu
Tepuk 3X he he he he
Tepuk 3X ho h ho ho
Tepuk Pilot
Tepuk 3X aku
Tepuk 3X anak sehat
Tepuk 3X belajar
Tepuk 3X dengan giat
Tepuk 3X sudah besar
Tepuk 3X jadi pilot
Tepuk anak Indonesia
Tepuk 3X aku
Tepuk 3X anak Indonesia
Tepuk 3X tanah air
Tepuk 3X kubanggakan
Tepuk 3X cinta damai
Tepuk 3X selamanya
Tepuk Indonesia
Tepuk 3X Indonesia
Tepuk 3X Tanah Airku
Tepuk 3X Indonesia Raya
Tepuk 3X Lagu kebangsaanku
Tepuk 3X Garuda
Tepuk 3X Lambang negaraku
Tepuk 3X Pancasila
Tepuk 3X Dasar negaraku
Tepuk 3X Itulah Indonesiaku
Tepuk Merdeka
Tepuk 3X tujuhbelas
Tepuk 3X agustus
Tepuk 3X empat lima
Tepuk 3X merdeka
Tepuk Pulau Indonesia
Tepuk 3X ada Jawa
Tepuk 3X ada sumatra
Tepuk 3X ada kalimantan
Tepuk 3X ada Sulawesi
Tepuk 3X dan Papua
Tepuk 3X itulah Indonesia
Yess
Tepuk Pelangi
Tepuk 3X merah
Tepuk 3X jingga
Tepuk 3X kuning
Tepuk 3X hijau
Tepuk 3X biru
Tepuk 3X nila
Tepuk 3X ungu
Tepuk 3X mejikuhibiniu
Tepuk Pramuka
Tepuk 3X
Tepuk 3X
Tepuk 7X
Tepuk alam semesta
Tepuk 3X ada bumi
Tepuk 3X ada bulan
Tepuk 3X ada matahari
Tepuk 3X ada bintang
Tepuk 3X ada komet
Tepuk 3X ada planet
Tepuk 3X alam semesta
Tepuk 3X ciptaan Tuhan
Yesss
Demikian daftara macam macam permainan tepuk tangan dalam Pramuka semoga bermanfaat
Macam Simpul Tali Temali Serta Kegunaanya Dalam Pamuka

Macam Simpul Tali Temali Serta Kegunaanya Dalam Pamuka

Macam Simpul Tali Temali Serta Kegunaanya Dalam Pamuka

buat-pionering-
Pionering, Simpul dan tali temali pramuka seperti Simpul Jangkar, Simpul Pangkal, Simpul Anyam di dalam materi pramuka siaga, penggalang sampai penegak kerap menjadi perlombaan dalam acara lomba pramuka atau berkemah. banyak sekali hal yang harus di pelajari dalam materi tali temali atau.
Sebenarnya antara tali, simpul dan ikatan  adalah hal yang berbeda,  Tali adalah bendanya, Simpul adalah hubungan antara tali dengan tali. Ikatan adalah hubungan antara tali dengan benda lainnya, misal kayu, balok, bambu dan sebagainya.
Berikut ini daftar macam macam simpul tali yang berhasil di rangkum oleh redaksi tunaskelapa.com di buku saku paramuka yang bisa kamu pelajari.



Nama Simpul :

Simpul Ujung Tali :
berfungsi untuk menjaga ujung tali agar tidak terurai.
simpul ujung tali
Simpul Mati :
berfungsi untuk mengikat tali yang sama besar
simpul-mati
Simpul Anyam:
berfungsi untuk mengikat tali yang sama besarnya dalam kondisi kering
simpul anyam
Simpul Anyam Berganda :
berfungsi untuk mengikat dua tali yang berbeda ukuran dalam kondisi kering atau basah
simpul anyam ganda
Simpul Erat :
berfungsi untuk memulai suatu ikatan
simpul erat
Simpul Pangkal :
digunakan untuk permulaan suatu ikatan
simpul-pangkal
Simpul Tiang:
berfungsi untuk mengikat leher binatang ternak agar tidak terjerat dan masih dapat bergerak bebas mencari makan.
simpul tiang
 Simpul Tarik :
digunakan untuk menuruni tebing/pohon dan tidak akan kembali lagi
simpul tarik
Simpul Kursi :
berfungsi untuk mengangkat/menurunkan manusia atau barang
simpul kursi.
Simpul Kembar :
digunakan untuk mengikat dua tali yang sama ukurannya dalam kondisi licin atau basah
simpul kembar
Simpul Jangkar :
berfungsi untuk membuat tandu darurat
impul jangkar

Demikian Tunaskelapa lampirkan macam dan fungsi tali temali pionering semoga bermanfaat.
Alasan Dan Manfaat Pramuka Berkemah

Alasan Dan Manfaat Pramuka Berkemah

Alasan Dan Manfaat Pramuka Berkemah

Ilustrasi
Ilustrasi
Berkemah merupakan kegiatan terbesar  didalam kegiatan pramuka, baik siaga penggalang dan penegak.  Persami, kemah bakti, diksarcaba atau raimuna dan lain sebagainya biasanya pasti bekemah atau mendirikan tenda untuk beristirahat. karena pada acara acara tersebut tidak mungkin akan selesai dal satu hari maka harus mendirikan tenda untuk tempat menginap atau (berkemah).
Berkemah juga memiliki  alasan atau tujuan yang kuat, tidak hanya sekedar untuk senang senang senang dan refresing semata. alasan mengapa berkemah sangat penting bagi pramuka adalah
1. Banyaknya manfaat yang dapat diambil dari kegiatan Berkemah.
2. Berkemah pun mengajarkan anak agar lebih menghargai alam.
3.Berkemah bisa menghemat pengeluaran dari pada di mal.
A. Manfaat berkemah bagi Sangga Kerja :
  1. Melatih ketrampilan memimpin
  2. Melatih mengatasi masalah, konflik
  3. Melatih mengelola dan mengatur orang lain
  4. Bertanggung jawab terhadap jadwal yang sudah direncanakan
  5. Berlatih berkomunikasi dengan masyarakat.
B. Manfaat berkemah bagi Peserta Didik
  1. Melatih kemandirian, tanggung jawab, kerja sama, empati, disiplin.
  2. Berani dipimpin dan memimpin
  3. Membiasakan diri mendahulukan kepentingan bersama daripada individu
  4. Melatih mengendalikan emosi, karena semua capek, lapar dan ngantuk
  5. Melatih diri menahan hawa sombong, congkak, iri, pamer
  6. Latihan hidup sederhana
Apakah kalian mempunyai pendapat sendiri tentag Alasan Dan Manfaat Pramuka Berkemah?, silahkan tuangkan pendapat anda melalui form komentar facebook di bawah ini.
Pernomeran Dan Kode Surat Pramuka

Pernomeran Dan Kode Surat Pramuka

Pernomeran Dan Kode Surat Pramuka

sby-pakai-seragam-pramuka-1
Nomor Surat Dinas Pramuka, surat permohonan, proposal, surat undangan pramuka surat keluar dan lain lain memang selalu di butuhkan setiap akan mengadakan acara kepramukaan seperti raimuna, diksarcaba, pelantikan DA. Pelantikan bantara dan lain sebagainya.
Membuat surat dinas kepramukaan juga tidak boleh sembarangan seperti surat biasa atau surat untuk saudara atau pacar bahkan undangan perkawina tetapi ada tata caranya dan ada nomor nomornya, nah bagaimana penomoran surat pada jenis surat pramuka berikut cotoh penomoran surat keluar kwartir yang tunaskelapa rangkumkan dari sumber Jukran Sismintir 2011 untuk anda sebagai pedoman dalam pembuatan surat kepramukaan.
Nomor dan Kode Surat
CARA PERNOMORAN SURAT (SURAT KELUAR)  KWARTIR
Disusun sebagai berikut :
  1. Nomor urut surat keluar
  2. Kode Kwartir
  3. Kode  Bidang
CONTOH : 234/ 1133 – C
  1. 234                : Nomor Urut surat keluar
  2. 1133              : Kode Kwartir Cabang
  3. C                   : Kode Surat / Bidang
Keterangan :
- Surat tersebut dikeluarkan oleh Kwartir Cabang;
- Pada point (b) 11 adalah kode nomor Kwarda dan 33 kode  Kwarcab.
- Apabila surat tersebut dikeluarkan oleh Kwartir Ranting maka penulisan nomor surat menjadi : 113301
( 01 adalah kode nomor Kwartir Ranting)
Untuk pemberian kode Biro di lingkungan Kwartir Nasional, diatur sebagai berikut:
KODE
BIDANG
A
Pimpinan, staf pimpinan, serta kelompok staf yang menangani kebijakan pimpinan.
B
Bidang Organisasi dan Kerjasama serta kelompok staf yang menangani organisasi dan kerjasama
C
Bidang Kepramukaan serta kelompok staf yang menangani kepramukaan.
D
Bidang Pendidikan dan Penelitian serta kelompok staf yang menangani pendidikan, pelatihan, penelitian, dan pengembangan
E
Bidang Pengabdian Masyarakat dan Siaga Bencana serta kelompok staf yang menangani pengabdian masyarakat dan siaga bencana.
F
Bidang Hubungan Masyarakat dan Informatika serta kelompok staf yang menangani hubungan masyarakat dan informatika serta majalah
G
Bidang Usaha dan Kemitraan serta kelompok staf yang menangani usaha dan kemitraan.
H
Bidang Hubungan Internasional serta kelompok staf yang menangani hubungan internasional.
J
Sekretaris Jenderal serta kelompok staf yang menangani perencanaan dan umum
K
Bendahara serta kelompok staf yang menangani keuangan.
L
Pusdiklatnas serta kelompok staf yang menangani pusat pendidikan dan pelatihan kepramukaan tingkat nasional.
M
Puslitbangnas serta kelompok staf yang menangani pusat penelitian dan pengembangan Gerakan Pramuka tingkat nasional.
N
Dewan Kerja.
P
Taman Rekreasi Wiladatika.
Q
Bumi Perkemahan dan Graha Wisata Pramuka.
R
Badan Usaha (PT. Madu Pramuka, PT. Molino, Koperasi, Balai Penerbit, dll).
S
Saka Bahari.
T
Saka Bakti Husada.
U
Saka Bhayangkara.
V
Saka Dirgantara.
W
Saka Kencana.
X
Saka Tarunabumi.
Y
Saka Wanabakti.
Z
Saka Wirakartika.

Untuk pemberian kode bidang di lingkungan kwartir daerah, kwartir cabang, dan kwartir
ranting diatur sebagai berikut atau diatur sesuai kebutuhan:

KODE
BIDANG
A
Pimpinan.
B
Bidang Pembinaan Anggota Muda dan kelompok staf yang menangani pembinaan anggota muda.
C
Bidang Pembinaan Anggota Dewasa dan kelompok staf yang menangani pembinaan anggota dewasa
D
Bidang Hubungan Masyarakat dan Pengabdian Masyarakat serta kelompok staf yang menangani hubungan masyarakat dan pengabdian masyarakat.
E
Bidang Organisasi, Kerjasama, dan Hukum serta kelompok staf yang menangani organisasi, kerjasama dan hukum
F
Bidang Dana, Usaha, Sarana, dan Prasarana serta kelompok staf yang menangai dana, usaha, sarana/prasarana dan keuangan
G
Kelompok staf yang menangani Pusdiklat.
H
Kelompok staf yang menangani Puslitbang
J
Dewan Kerja
K
Badan Pengelola Unit Usaha Kwartir
L
Bumi Perkemahan
M
Kedai Pramuka.
N
Usaha lain-lain (PT, Koperasi, Balai Penerbit, dll).
P
Saka Bahari
Q
Saka Bakti Husada
R
Saka Bhayangkara
S
Saka Dirgantara.
T
Saka Kencana
U
Saka Tarunabumi.
V
Saka Wanabakti
W
Saka Wirakartika

Catatan : Penggunaan Kode dengan Huruf  I dan O ditiadakan untuk menghindari kesamaan dalam penulisan dengan angka 1(satu) atau 0 ( Nol ).
Jika terjadi penambahan kelompok maka dapat diberi kode huruf berikutnya dan bila telah sampai Z dapat dilanjutkan dengan penulisan kode AA, BB dan seterusnya.semoga bermanfaat


SUMBER WWW.TUNASKELAPA.COM
4 Kunci Kata Santun Dalam Pramuka.

4 Kunci Kata Santun Dalam Pramuka.

4 Kunci Kata Santun Dalam Pramuka.

scoutmessengers.
scoutmessengers.
Sopan Santun serta tata krama dalam pergaulan adalah hal terpenting yang harus dimiliki oleh setiap orang terutama seorang pramuka,   dalam bertutur kata dan bertindak. Siap sopan dan santun juga harus di didik sejak dini sebagai pondasi, karena setiap perkataan dan perbuatan jika di dasari dengan tatakrama yang bagus maka orang lai juga akan menghargai kita dan memberikan simpati kepada kita.
Namun ini semua ada kuncinya, berikut  4 kunci kata santun yang tunaskelapa rangkum untuk anda.
1. Salam.
2. Maaf.
3. Tolong.
4. Terima kasih
Mudah sekali bukan??? buang rasa gengsi untuk melakukan ini semua toh orang lain justru malah minder melihat kita jika sudah terbiasa dengan hal ini, jadilah orang yang dapat menghargai diri sendiri dan orang lain

Lirik Indonesia Raya - W.R. Supratman

Lirik Indonesia Raya - W.R. Supratman  Indonesia tanah airku Tanah tumpah darahku Disanalah aku berdiri Jadi pandu ibuku Indonesia k...

Kategori

Kategori