Kompas adalah sebuah alat yang
berbentuk bulat untuk menetapkan/ menunjukkan arah mata angin. Seorang
pengembara dan ahli berkemah, harus mengetahui benar tentang Kompas.
Dengan bersemboyan pada Kompas, ia akan dapat mengikuti jalan yang
tertera dalam Peta, maka ia tidak akan tersesat dalam
perjalanan/pengembaraan.
Bagian-bagian penting dari Kompas:
Dial, adalah permukaan Kompas dimana tertera angka derajat dan huruf mata anqin.
Visir, adalah lubang dengan kawat halus untuk membidik sasaran.
Kaca Pembesar, digunakan untuk melihat derajat Kompas.
Jarum Penunjuk adalah alat yang menunjuk Utara Magnet.
Tutup Dial dengan dua garis bersudut 45° yang dapat diputar.
Alat Penyangkut adalah tempat ibu jari untuk menopang Kompas saat membidik
CARA MEMPERGUNAKAN KOMPAS
Letakkan Kompas di atas permukaan yang datar, setelah jarum Kompas
tidak bergerak maka jarum tersebut akan menunjukkan ARAH UTARA MAGNET.
Bidik sasaran meialui Visir, melalui celah pada kaca pembesar,
setelah itu miringkan kaca pembesar kira-kira bersudut 50° dengan kaca
dial.
Kaca pembesar tersebut berfungsi sebagai:
Membidik ke arah Visir, membidik sasaran
Mengintai derajat Kompas pada Dial.
Apabila Visir diragukan karena kurang jelas terlihat dari kaca
pembesar, luruskan garis yang terdapat pada tutup Dial ke arah Visir,
searah dengan sasaran bidik agar mudah terlihat melalui kaca pembesar.
Apabila sasaran bidik 30° maka bidiklah ke arah 30°. Sebelum menuju
sasaran, tetapkan terlebih dahulu Titik Sasaran sepanjang jalur 30°.
Carilah sebuah benda yang menonjol/tinggi diantara benda lain
disekitarnya, sebab route ke 30° tidak selalu datar atau kering,
kadang-kadang berbencah-bencah. Di tempat itu kita Melambung (keluar
dari route) dengan tidak kehilangan jalur menuju 30°.
Sebelum bergerak ke arah sasaran bidik, perlu ditetapkan terlebih
dahulu Sasaran Balik (Back Azimuth atau Back Reading) agar kita dapat
kembali ke pangkalan apabila tersesat dalam perjalanan.
RUMUS BACK AZIMUTH/BACK READING
Apabila sasaran kurang dari 180° = di tambah 180° 0 – 180° = X + 180°
Apabila sasaran lebih dari 180° = di kurang 180° 180°- 360° = X – 180°
Contoh: Sasaran balik dari
30° adalah = 30° + 180° = 210°
240° -”- = 240° - 180° = 60°
451 34′ 20″ -”- = 225° 34′ 20″
178° 54′ 14 -”- = 001 ° 05′ 45″
MATA ANGIN
U (Utara) 0° atau 360°
UTL (Utara Timur Laut ) 22° 30°
TL (Timur Laut) 45°
TTL (Timur Timur Laut ) 67° 30°
T (Timur) 90°
TMG (Timur Menenggara) 112° 30°
TG (Tenggara) 135°
SMG (Selatan Menenggara) 157° 30°
S (Selatan) 180°
SBD (Selatan Barat Daya) 202° 30°
BD (Barat Daya) 225°
BBD (Barat Barat Daya) 247° 30′
B (Barat) 270°
BBL (Barat-Barat Laut) 290° 30°
BL (Barat Laut) 315°
UBL (Utara Barat Laut ) 337° 30′
Benda-benda lain yang dapat digunakan untuk menentukan arah Mata Angin:
1. Matahari, terbit di Timur dan terbenam di Barat
2. Masjid, sebagai kiblat menghadap Barat Laut
3. Bintang, Rasi-rasi bintang pada malam hari.
4. Kuburan Islam, batu nisan membujur dan Utara-Selatan.
5. Silet, jika diapungkan di atas air
Menaksir adalah memperkirakan (mengira-ngira) tinggi
suatu pohon, lebar sebuah sungai, arus sungai, jarak perjalanan, keadaan
cuaca dan mengukur berat suatu benda.
Mengukur suatu tidak dengan perkiraan atau dengan menyebut sebuah
bilangan. Perkiraan yang kita buat haruslah didasarkan pada suatu
perhitungan dan pada sebuah bilangan yang sudah diketahui. Untuk itu,
kita harus mengetahui ukuran diri kita sendiri dengan cara mengetahui :
Ukuran jempol
Panjang dari ujung jempol hingga ujung telunjuk
Panjang dari ujung jempol hingga ujung kelingking
Lebar tangan
Panjang dari pergelangan tangan hingga siku
Panjang telapak kaki
Panjang tangan direntangkan
Panjang langkah kaki
Tinggi badan
Berat badan
Ukuran badan yang sudah kita ketahui, catat dalam buku dan hafalkan
di luar kepala. Lebih baik lagi jika kita mempunyai tongkat yang
panjangnya 1,6 M.
Menaksir Lebar dengan Rumus : EF = DF
Masih banyak cara lain untuk mengukur lebar sungai dengan
mempergunakan perbandingan-perbandingan ilmu ukur. Misalnya, kalau
sungai itu tidak terlalu lebar, lemparkan sebuah batu yang diikat pada
seutas tali, sekarang tariklah batu itu, hingga terletak di tepi sungai
yang diseberang. Berilah tanda tali yang ada ditangan kita yang terletak
di tepi sungai itu. Jarak dari tanda hingga ke batu merupakan lebar
sungai yang hendak diukur.
Jagalah supaya tali lurus dan jangan sampai miring letaknya.
Letakkan tongkat di air seperti terlihat pada gambar di atas.
Setelah tongkat tenang, lemparkan ke air sebatang ranting (harus
terapung) atau benda lainnya agak jauh di depan titik (X).
Saat ranting mencapai titik (X) mulailah menghitung waktu yang akan
ditempuh sampai titik (Y). Saat mencapai titik (Y) lihatlah berapa waktu
tempuh ranting itu dari X ke Y, maka kita dapatkan (T).
Masukkan panjang tongkat dan watu tempuh ke dalam rumus di atas,
maka kita akan dapatkan perkiraan besarnya Deras Arus Sungai tersebut.
a.Dengan mempergunakan perbandingan llmu Ukur.
Ambil sepotong bambu atau lainnya. Kita berdiri di tepi sungai dan
masukkan bambu ke dalam air, hingga membentuk sudut 45° dengan dasar
sungai. Panjang sebuah sisi segitiga itu adalah dalamnya sungai.
Persamaan :
b.Dengan mempergunakan Seutas Tali.
Kita berdiri di tepi sungai dengan memegang sebatang bambu. Di ujung
bambu kita sangkutkan seutas tali dan pada ujung tali kita gantungkan
sebuah batu.
Peganglah bambu itu di atas permukaan air dan luncurkan batu itu ke
dalam air. Jika batu itu sudah sampai dasar sungai, maka bagian yang
basah dari tali tersebut akan menjadi dalamnya sungai. Kerjakanlah
pengukuran ini pada beberapa tempat, agar mendapatkan rata-rata dalamnya
sungai.
Menaksir berat suatu benda itu perlu kita ketahui. Misalnya, jika
kita pergi ke pasar untuk berbelanja, kita harus dapat menaksir berat
ikat yang akan kita beli. Atau kita perlu juga mengetahui untuk menaksir
berat perlengkapan berkemah yang akan kita bawa agar kita dapat
mengetahui kemampuan badan kita.
Mengukur berat ini memerlukan ketelitian dan hal tersebut tidaklah
mudah, perlu latihan terus menerus hingga kita dapat membedakan setiap
berat sebuah benda. Untuk melatihnya pertama-tama, ambillah sebuah benda
yang beratnya telah diketahui, misalnya sebuah batu yang beratnya 1 Kg,
atau ambillah sebuah benda lain yang beratnya juga 1 Kg, yang
dipergunakan untuk mengukur berat. Dengan memegang benda ini di tangan
yang sebelah, kita mencoba menaksir berat benda yang akan kita timbang
dengan tangan yang sebelah lagi. Agar mendapatkan hasilnya, cobalah
menimbang barang yang hendak ditimbang itu dengan timbangan. Ulangi
percobaan ini beberapa kali, supaya kita mendapat berat yang sebenarnya.
Haruslah diingat, bahwa sebuah benda terasa lebih berat di tangan kiri
dari pada di tangan kanan.
I. PENDAHULUAN
Baris berbaris adalah salah satu wujud latihan fisik yang diperlukan
guna menanamkan disiplin mempertebal rasa dan semangat kebangsaan,
patriotisme serta rasa tanggungjawab yang tinggi bagi peserta didik
sehingga diperoleh sikap lahir (ketegapan, ketangkasan, kelincahan dan
kerapihan) dan sikap batin (ketaatan, keikhlasan berkorban,
kesetiakawanan dan persatuan) yang diharapkan.
II. MATERI POKOK 1. Aba-Aba
a. Aba-aba adalah perintah yang diberikan oleh seorang
pelatih/pemimpin barisan kepada barisan untuk dilaksanakan pada waktunya
secara serentak atau berturut-turut.
b. Aba-aba terbagi atas 3 macam yaitu :
Aba-aba peringatan, dipergunakan hanya jika perlu, untuk menegaskan maksud dari aba-aba petunjuk/pelaksanaan. Contoh :
- “Kepada Pemimpin Upacara” รจ Hormat รจ Grak
- “Untuk Amanat” รจ Istirahat Ditempat รจ Grak
Aba-aba petunjuk, adalah inti perintah yang cukup jelas untuk dapat dilaksanakan tanpa ragu-ragu. Contoh :
- “Lencang Kanan” รจ Grak
- “Maju” รจ Jalan
Aba-aba pelaksanaan, adalah ketegasan mengenai saat melaksanakan aba-aba petunjuk/peringatan dengan cara serentak atau berturut-turut.
Aba-aba pelaksanaan yang dipakai adalah :
<1> Grak : Dipergunakan untuk gerakan-gerakan tanpa meninggalkan tempat
<2> Jalan : Dipergunakan untuk gerakan-gerakan yang meninggalkan tempat
<3> Mulai : Dipergunakan pada pelaksanaan perintah yang harus dikerjakan berturut-turut.
Dengan catatan apabila meninggalkan tempat itu tidak dibatasi
jaraknya, maka aba-aba pelaksanaan harus didahulu dengan aba-aba
peringatan “MAJU”.
2. Gerakan Dasar Di Tempat a. Sikap Sempurna
Aba‑aba : SIAP = GRAK Pelaksanaan :
Pada aba‑aba pelaksanaan, badan/tubuh berdiri tegak, kedua turnit
rapat, kedua kaki membentuk sudut 60°, lutut lurus, dan paha dirapatkan,
berat badan dibagi atas dua kaki. Perut ditarik sedikit dan dada
dibusungkan, pundak ditarik ke belakang sedikit dan tidak dinaikkan.
Lengan rapat pada badan, pergelangan lengan lurus, jari-jari tangan
menggenggam tidak terpaksa dirapatkan pada paha, ibu jari menghadap ke
depan. Leher lurus, dagu ditarik, mulut tertutup, gigi dirapatkan, mata
memandang lurus mendatar ke depan, dan bernapas sewajarnya. b. Istirahat.
Aba‑aba: ISTIRAHAT DI TEMPAT = GRAK Pelaksanaan :
Pada aba‑aba pelaksanaan, kaki kiri dipindahkan ke samping kiri
dengan jarak sepanjang telapak kaki (± 30 cm). Kedua belah lengan dibawa
ke belakang di bawah pinggang, punggung tangan kanan di atas telapak
tangan kiri tangan kiri memegang pergelangan tangan kanan di antara ibu
jari dan telunjuk serta kedua lengan dilemaskan badan dapat bergerak.
<1> Dalam keadaan parade di mana diperlukan pemusatan pikiran
dan kerapian diperlukan aba‑aba petunjuk sebelum aba‑aba peringatan dan
pelaksanaan aba‑aba “PARADE ISTIRAHAT DI TEMPAT รจ GRAK”. Pelaksanaan :
Sama dehgan tersebut di atas, hanya tangan ditarik ke atas sedikit
(di pinggang), tidak boleh bergerak, berbicara dan pandangan ke depan.
<2> Dalam keadaan parade maupun bukan parade apabila akan
diberikan sesuatu amanat oleh atasan, maka istirahat dilakukan atas :
aba‑aba “UNTUK PERHATIAN รจ ISTIRAHAT DI TEMPAT รจ GRAK” Pelaksanaan :
Sama dengan tersebut pada titik <1>, dan pandangan ditujukan kepada pemberi perhatian/amanat.
<3> Apabila dalam keadaan “ISTIRAHAT DI TEMPAT” yang tidak
didahului dengan aba‑aba petunjuk “PARADE UNTUK PERHATIAN, diberikan
ananat oleh seorang Pembina maka pada waktu diucapkan kata-kata pertama
dari amanat, pasukan secara serentak mengambil sikap sempuma, kemudian
kembali mengambil sikap, “UNTUK PERHATIAN ISTIRAHAT DI TEMPAT”.
Apabila dalam keadaan ISTIRAHAT DI TEMPAT, seorang Pembina datang
untuk memberikan perhatian ataupun petunjuk‑petunjuk, maka Pembina
dengan menggunakan “PERHATIAN”, barisan mengambil sikap sempurna tanpa
mengucapkan kata siap, kemudian mengambil sikap, UNTUK PERHATIAN รจ
ISTIRAHAT DI TEMPAT รจ GRAK.
Pada kata‑kata: PERHATIAN SELESAI ATAU SEKIAN barisan kembali ke
sikap sempurna tanpa didahului, aba‑aba, kemudian kembali ke sikap
istirahat di tempat.
Maksud dari sikap terakhir ini sebagai jawaban tanpa suara, bahwa
petunjuk‑petunjuk yang diberikan oleh Pelatih/Pemimpin barisan akan
dijalankan.
c. Lencang Kanan/Kiri (hanya dalam bentuk bersyaf)
Aba‑aba : LENCANG KANAN / KIRI รจ GRAK
Pelaksanaan :
Gerakan ini dijalankan dengan sikap sempurna. Pada aba‑aba
pelaksanaan, semua mengangkat lengan kanan/kiri ke samping, jari‑jari
tangan kanan/kiri menggenggam, punggung tangan menghadap ke atas.
Bersarnaan dengan ini kepala dipalingkan ke kanan/kiri, kecuali penjuru
kanan/kiri.
Masing‑masing meluruskan diri sehingga dapat melihat dada teman yang
berada di sebelah kanan/kirinya sampai kepada Penjuru kanan/kiri. Jarak
ke samping harus sedemikian rupa hingga masing‑masing dengan jari‑jari
menyentuh bahu kiri teman yang berada di sebelah kanannya. (Kalau
lencang kiri maka masing-masing tangan kirinya menyentuh bahu kanan
teman yang ada di sebelah kirinya).
Penjuru kanan/kiri tidak berobah di tempat.
<1> Kalau bersaf tiga maka bagi mereka yang berada di saf
tengah dan belakang diwajibkan mengambil antara 1 lengan kanan/kiri
ditambah 2 kepalan tangan ke depan dan setelah lurus menurunkan lengan.
Aba‑aba adalah lencang kanan/kiri, maka mereka yang mengambil antara
depan sarnbil meluruskan barisan pada hakekatnya melakukan: Lencang
depan.
Oleh karena itu mereka segera kembali ke sikap sempuma tanpa menunggu
aba‑aba: TEGAK=GRAK. Pada aba‑aba: TEGAK=GRAK semua dengan serentak
menurunkan lengan dan memalingkan muka kembali ke depan dan berdiri
dalam sikap sempurna.
<2> Pada waktu Pemimpin barisan menberikan aba‑aba “LENCANG
KANAN/KIRI=GRAK dan barisan sedang meluruskan syafnya, Pemimpin barisan
memeriksa kelurusan barisan itu dari sebelah kanan/kiri dengan menitik
beratkan pada kelurusan tumit (bukan ujung depan sepatu).
d. Setengah Lencang Kanan/Kiri
Aba‑aba: SETENGAH LENCANG KANAN/KIRI=GRAK.
Pelaksanaan
Seperti pelaksanaan lencang kanan/kiri, tetapi tangan kanan/kiri di
pinggang (bertolak pinggang) dengan siku menyentuh lengan teman
sebelahnya: pergelangan tangan lurus, ibu jari sebelah belakang dan
empat jari lainnya rapat satu dengan lain di sebelah depan.
Pada aba‑aba: TEGAK=GRAK, semua serentak menurunkan lengan dan
memalingkan muka kembali ke depan dan berdiri dalam sikap sempurna.
Setengah lengan lencang kanan/kiri ini tidak mempengaruhi kewajiban
penjuru saf tengah dan saf belakang untuk mengambil antara sama seperti
yang tercantum dalam catatan nomor c. Jika barisan hendak disuruh
berjalan dalam bentuk berbanjar menuju ke kanan/kiri, hendaknya
sebelumnya diberikan terlebih dahulu aba‑aba LENCANG KANAN=GRAK.
Jika hal ini tidak dilakukan maka jarak yang telah diciptakan tidak dapat menampung langkah biasa yang panjangnya 65 cm.
e. Lencang Depan (hanya dalam bentuk berbanjar)
Aba‑aba: LENCANG DEPAN=GRAK
Pelaksanaan:
Penjuru tetap sikap sempuma: nomor dua dan seterusnya meluruskan ke
depan dengan mengangkat tangan/lihat pada keterangan cara melatih
berkumpul. Bila berbanjar tiga maka penjuru tengah dan kiri mengambil
antara satu lengan dan setelah lurus menurunkan tangan lalu
anggota-anggota yang ada di banjar tengah dan kiri, tidak perlu
mengangkat tangan, hanya meluruskan terlebih dahulu ke kanan
(melihat/memalingkan muka ke kanan) dan setelah lurus memalingkan muka
ke depan.
Saf terdepan banjar tengah dan kiri setelah selesai mengambil antara
satu lengan (seolah‑olah lencang kanan) wajib segera menurunkan
lengannya.
f. Berhitung
Aba‑aba: HITUNG=MULAI
Pelaksanaan :
Jika bersaf, maka pada aba‑aba peringatan, penjuru tetap melihat ke depan, sedang saf terdepan memalingkan muka ke kanan.
Pada aba-aba pelaksanaan, berturut-turut tiap anggota mulai dari
penjuru kanan menyebut nomornya sambil memalingkan muka kembali ke
depan.
Jika berbanjar maka pada aba-aba peringatan, semua anggota dalam sikap sempurna.
Pada aba-aba pelaksanaan tiap anggota mulai dari penjuru kanan penyebutan nomor diucapkan penuh.
Yang dimaksud dengan pengucapan nomor secara penuh ialah misalnya
sebelas dan buka satu-satu, pengucapan nomor harus secara tegas tetapi
dengan sopan.
Jika pasukan bersaf/berbanjar tiga, maka yang berada di paling ujung
kiri belakang diharuskan mengucapkan LENGKAP atau KURANG SATU/KURANG
DUA.
3. Gerakan Berjalan
a. Macam langkah: dapat dibeda‑bedakan sebagai berikut :
Panjang sernua langkah diukur dari tumit ke tumit, bila disebut satu langkah, maka panjangnya 65 cm.
Penetapan macarn langkah panjang dan tempo langkah dianggap perlu untuk kepentingan pengendalian dengan maksud‑maksud tertentu.
<1> Langkah biasa. Dipergunakan untuk bergerak maju dengan
panjang langkah serta tempo tertentu. Cara meletakkan kaki di atas tanah
adalah dihentakkan, dan tumit yang disusul dengan seluruh tapak kaki,
akhirnya ujung kaki meninggalkan tanah pada waktu membuat langkah
berikutnya. Waktu mengayunkan kald ke depan, lutut dibengkokkan sedikit.
<2> Langkah tegap. Dipergunakan pada waktu, memberi hormat
ataupun waktu persiapan ke arah itu. Berbeda dengan langkah biasa, maka
langkah tegap menghendaki lutut lurus dan hentakan kaki yang wajar,
tanpa mengurangi panjangnya langkah maupun temponya dengan maksud agar
jarak dengan pasukan di belakang tetap terpelihara.
<3> Langkah perlahan. Dipergunakan waktu mengusung/membawa peti
jenazah ataupun benda‑benda yang cara membawanya wajib dilakukan secara
khidmat. Untuk menghindarkan gerakan naik turun dari jenazah yang
diusung/dibawa, maka langkah‑langkah senantiasa ditahan sebentar di
sebelah mata kaki yang lain.
<4> Langkah ke samping. Dipergunakan untuk memindahkan
barisan/sebagian dari barisan ke kiri/ke kanan. Untuk menghindarkan
aba‑aba “BERHENTI”, maka jurnlah langkah dengan batas 4, sekaligus telah
diucapkan pada aba‑aba peringatan. Tubuh tetap tegak lurus, dan tidak
boleh dimiringkan.
<5> Langkah ke belakang. Dipergunakan untuk memindahkan
barisan/sebagian dari sebanyak‑banyaknya empat langkah ke belakang.
Selamanya dimulai melangkah dengan kaki kiri. Tubuh tetap tegak, tidak
membungkuk.
<6> Langkah ke depan. Dipergunakan untuk memindahkan
barisan/sebagian dari barisan sebanyak‑banyaknya empat langkah ke depan.
Cara melangkah adalah seperti langkah tegap tetapi dengan tempo yang
lebih lambat serta langkah yang pendek, dan lengan tidak melenggang
(lenggangan lengan dapat memperbesar panjangnya langkah). Tubuh tetap
lurus, tidak boleh membungkuk.
<7> Langkah lari. Dipergunakan untuk mempercepat gerakan dari barisan.
b. Panjang dan Tempo Langkah
<1> Dengan kecepatan 120 langkah @ 65 cm tiap menit, barisan
dapat mencapai jarak sepanjang 60 X 120 X 65 cm = 4,68 km dalam 1 jam.
Dengan ketentuan syarat ketinggian 158 cm bag! barisan, maka untuk
sementara panjang langkah 65 cm merupakan langkah yang normal maksimal.
Tetapi jika syarat ketinggian telah mencapai 160 cm, maka panjang
langkah dapat diperbesar menjadi 70 cm. Bilamana hal ini telah tercapai
maka jarak 5 km dapat ditempuh di dalam waktu normal 1 jam; 60 X 120 X
70 cm = 5,04 km.
<2> Pengurangan dari 65 cm meniadi 60 cm dengan tempo yang
diperlambat khusus untuk langkah ke depan adalah untuk menjamin sikap
yang wajar, karena lengan tidak melenggang.
<3> Dengan maksud yang sama ditentukan pula panjangnya serta
temponya dari pada langkah‑langkah perlahan, ke belakang dan ke samping.
<4> Penetapan panjang dan temponya langkah waktu berlari
dianggap untuk sementara kemarnpuan norma dari pada barisan. Jarak yang
dapat dicapai dalam 1 jam adalah 60 X 165 X 80 cm = 7,92 km.
c. Maju Jalan
Dari sikap Sempurna
Aba‑aba; MAJU=JALAN
Pelaksanaan
<1> Pada aba‑aba pelaksanaan, kaki kiri diayunkan ke depan
lutut lurus, telapak kaki diangkat rata sejajar dengan tanah setinggi ±
15 cm, kemudian dihentakkan ke tanah dengan langkah biasa.
<2> Langkah pertama dilakukan dengan melenggangkan lengan kanan ke depan 90°, lengan kiri 30° ke belakang.
Pada langkah selanjutnya lengan atas dan bawah lurus dilegangkan ke
depan 45° dan ke belakang 30°. Tangan menggenggam dengan tidak terpaksa.
Penjuru kanan depan mengambil satu titik yang terletak dalam satu garis
sebagai arah barisan. Seluruh anggota meluruskan barisan pan dengan
melihat kepada belakang leher.
Dilarang keras: ‑ berbicara : – berbicara;
- melihat ke kiri/ke kanan.
Pada waktu melenggangkan tangan agar tidak kaku gerakannya. Lenggang
lengan kanan ke depan pada langkah pertama adalah 90° sedangkan lengan
kiri 30° ke belakang. Selanjutnya lenggangan tangan ke depan adalah 45°
dan kebelakang 30°. Hentakan kaki pada langkah pertama hendaknya
dilakukan secara wajar, ujung kaki tidak boleh menghadap ke luar, tetapi
kira-kira satu dengan yang lain.
Untuk memelihara kelurusan arah, penjuru kanan melihat jauh ke depan
untuk kemudian mengambil dua benda yang satu dengan yang lainnya harus
saling menjadi patokan.
Contoh: tiang telepon pada jarak 50 m, kemudian di belakangnya sebatang pohon kelapa pada jarak 75 m sebagai penjuru.
d. Langkah Biasa
Pada waktu berjalan, kepala dan badan seperti pada waktu sikap
sempuma. Waktu mengayunkan kaki ke depan lutut dibengkokkan sedikit
(kaki tidak boleh diseret).
Kemudian diletakkan ke tanah menurut jarak yang telah ditentukan.
Cara melangkah kaki seperti pada waktu berjalan biasa. Pertama tumit
diletakkan di tanah selanjutnya seluruh kaki. Lengan dilenggangkan
dengan sewajarnya lurus ke depan dan ke belakang di samping badan. Ke
depan 45° ke belakang 30°. Jari‑jari tangan digenggang dengan tidak
terpaksa, punggung ibu jari menghadap ke atas.
Cara melangkah seperti ini mengurangi bahaya gegar otak
atau‑penggunaan tenaga seraya merupakan gerakan berjalan yang biasa dan
wajar dilakukan oleh setlap manusia.
e. Langkah Tegap
<1> Darl sikap sempuma.
Aba‑aba: LANGKAH TEGAP MAJU=JALAN.
Pelaksanaan
Mulai berialan dengan kaki kirt langkah pertama selebar setengah
langkah selanjutnya seperti jalan biasa (panjang dan tempo) dengan cara
kaki dihentakkan terus mencrus tetapi tidak dengan berlebih‑lebihan,
telapak kaki rapat dan sejajar dengan tanah, lutut-lutut kaki tidak
boleh diangkat tinggi. Bersamaan dengan langkah pertama genggaman tangan
dibuka sehingga jari‑jari lurus dan rapat lenggang tangan 90° ke depan
dan 30° ke belakang.
<2> Dari langkah biasa
Aba‑aba: LANGKAH TEGAP=JALAN.
Pelaksanaan
Aba‑aba pelaksanaan diberikan pada waktu kaki kiri jatuh di tanah,
ditambah satu langkah selanjutnya mulai berjalan seperti tersebut pada
butir.
<3> Kembali ke langkah biasa (sedang berjalan)
Aba‑aba: LANGKAH BIASA=JALAN.
Pelaksanaan
Aba‑aba diberikan pada waktu kaki kiri jatuh di tanah ditambah satu
langkah dan mulai berjalan dengan langkah biasa, hanya langkah pertama
dihentakkan, selanjutnya berjalan seperti biasa.
(1) Pada waktu perobahan dari langkah tegap ke langkah biasa dan
sebaliknya, maka perobahan tangan terbuka menjadi mengenggam dan
sebahknya dilakukan bersamaan dengan gerakan hentakan kaki.
(2) Dalam keadaan sedang berjalan cukup menggunakan aba‑aba peringatan; LANGKAH TEGAP/ LANGKAH BIASA=JALAN.
Pada tiap‑tiap perobahan langkah (tanpa kata maju).
(3) Langkah tegap hanya dipergunakan pada waktu hendak menyatakan rasa hormat terhadap seseorang yang wajib dihormati.
(a) Pejabat yang berhak menerima penghormatan dengan langkah tegap.
(b) Pejabat yang ada di panggung kehormatan pada waktu upacara‑upacara.
Panjang dan irama serta tempo langkah sama seperti langkah biasa
hanya dihentakkan secara wajar dengan tapak kaki yang diayunkan sejajar
dengan tanah dan dilakukan dengan lutut lurus. Oleh karena langkah tegap
ini menghendaki tenaga, maka jaraknya ditetapkan maksimal 100 m.
f. Langkah Perlahan
1) Untuk berkabung (mengantar jenazah)
Aba‑aba: LANGKAH PERLAHAN‑MAJU=JALAN
Pelaksanaan :
Gerakan dilakukan dengan sikap sempurna. Pada aba‑aba “JALAN”, kaki
kiri dilakukan ke depan, setelah kaki kiri menampak di tanah segera
disusul dengan kaki kanan ditarik ke depan dan ditahan sebentar di
sebelah mata kaki kiri, kemudian dilanjut kan ditapakkan kaki kanan di
depan kaki kiri, Gerakan selanjutnya melakukan gerakan-gerakan seperti
semula. Dalam keadaan sedang berjalan, aba‑aba adalah LANGKAH
PERLAHAN=JALAN yang diberikan pada waktu kaki kiri jatuh di tanah
ditambah satu langkah dan kemudian mulai berjalan dengan langkah
perlahan.
Tapak kaki pada saat melangkah (menginjak tanah) tidak dihentakkan, tetapi diletakkan rata‑rata untuk lebih khidmat.
2) Berhenti dalam langkah perlahan.
Aba‑aba : HENTI = GRAK
Pelaksanaan :
Aba‑aba pelaksanaan diberikan pada waktu kaki kiri jatuh di tanah
Ialu ditambah satu langkah. Selanjutnya kaki kiri menurut irama langkah
biasa dan mengambil sikap sempurna.
g. Langkah ke Samping
Aba‑aba : LANGKAH KANAN/KIRI=JALAN.
Pelaksanaan :
Pada aba‑aba pelaksanaan kaki kiri/kanan dilangkahkan ke samping
kanan/kiri,sepanjang 400 cm. Selanjutnya kaki kiri/kanan dirapatkan pada
kaki kanan/kiri sikap badan tetap seperti Pada sikap sempurna,
sebanyak-banyaknya hanya boleh dilakukan empat langkah.
h. Langkah ke Belakang
Aba‑aba : LANGKAH KE BELAKANG=JALAN.
Pelaksanaan :
Pada aba‑aba pelaksanaan kaki kiri melangkah ke belakang menurut
panjangnya langkah dan sesuai dengan tempo yang telah ditentukan,
menurut jumlah langkah yang diperintahkan. Lengan tidak boleh
dilenggangkan dan sikap badan seperti dalam sikap sempuma.
Sebanyak-banyaknya hanya boleh dilakukan empat langkah.
i. Langkah ke Depan
Aba‑aba : LANGKAH KE DEPAN=JALAN.
Pada aba‑aba pelaksanaan kaki kiri melangkah ke depan menurut panjang
langkah, menurut jumlah langkah yang diperintahkan. Gerakan kaki
seperti gerakan langkah tegap dan dihentakkan terus‑menerus. Lengan
tidak boleh dilenggangkan dan sikap seperti sikap sempurna
sebanyak-banyaknya hanya boleh dilakukan empat langkah.
j. Langkah di Waktu Lari
(1) Dari berhenti
Aba‑aba: LARI‑MAJU=JALAN.
Pelaksanaan :
Pada aba‑aba peringatan kedua tangan dikepalkan dengan lemas dan
diletakkan di pinggang sebelah depan dengan punggung tangan menghadap ke
luar, kedua siku sedikit ke belakang badan dicondongkan ke depan. Pada
aba‑aba pelaksanaan, dimulai lari dengan menghentakkan kaki kiii
setengah langkah dan selanjutnya lari menurut panjang langkah dan tempo
dengan cara kaki diangkat secukupnya. Telapak kaki diletakkan dengan
ujung telapak kaki terlebih dahulu, lengan dilenggangkan secara tidak
kaku.
(2) Dari langkah biasa.
Aba‑aba: LARI=JALAN Pelaksanaan
Pada aba‑aba peringatan, pelaksanaannya sama dengan butir a.
Aba‑aba pelaksanaan diberikan pada waktu kaki kiri jatuh ke tanah
kemudian ditambah satu langkah, selanjutnya berlari menurut ketentuan
yang ada.
(3) Kembali ke langkah biasa.
Aba‑aba: LANGKAH BIASA=JALAN
Pelaksanaan
Aba‑aba pelaksanaan diberikan pada waktu kaki kiri jatuh ke tanah
ditambah tiga langkah, kemudian berjalan dengan langkah biasa dimulai
dengan kaki kiri dihentakkan; bersamaan dengan itu kedua lengan
dilenggangkan.
Untuk berhenti dari keadaan berlari diberikan aba‑aba HENTI=GRAK.
Pelaksanaah aba‑aba diberikan pada waktu kaki kiri jatuh di tanah
ditambah tiga langkah, selanjutnya kaki dirapatkan kemudian kedua
kepalan tangan diturunkan untuk sikap sempurna.
k. Ganti Langkah
Aba‑aba: GANTI LANGKAH=JALAN.
Pelaksanaan
Gerakan dapat dilakukan pada wakju langkah biasa/tegak. Aba‑aba
pelaksanaan diberikan pada waktu kaki kiri iatuh di tanah kemudian
ditambah satu langkah. Sesudah itu ujung kaki kiri yang sedang di
belakang dirapatkan kepada tumit kaki sebelahnya. Bersamaan dengan itu
lenggang tangan dihentikan tanpa dirapatkan pada badan. Untuk
selanjutnya disesuaikan dengan langkah baru yang disamakan. Langkah
pertama hanya sepanjang langkah setengah. Kedua gerakan ini dilakukan
dalam satu hitungan.
Yang dimaksud dengan lenggang tangan dihentikan tanpa dirapatkan pada
badan ialah bahwa tangan yang sedang berada di depan/di belakang tetap
berada di depan/di belakang sampai pergantian langkah selesai. Kemudian
dilenggangkan kembali seperti biasa.
l. Jalan di Tempat
1) Dari sikap sempurna.
Aba‑aba: JALAN DI TEMPAT=GRAK,
Gerakan dimulai dengan kaki kiri, lutut berganti-ganti diangkat
sehingga paha rata‑rata air (horizontal) ujung kaki maju ke bawah, dan
tempo langkah sesuai .dengan tempo langkah biasa. Badan tegak, pandangan
mata tetap, ke depan, lengan dirapatkan pada badan (tidak
dilenggangkan).
2) Dari langkah biasa.
Aba‑aba : JALAN DI TEMPAT=GRAK.
Pelaksanaan
Aba‑aba pelaksanaan diberikan pada waktu kaki kiri jatuh di tanah
kemudian ditambah satu langkah di tempat dan mulai dengan kaki kiri
berjalan di tempat.
3) Dari jalan d! tempat ke langkah biasa.
Aba‑aba : MAJU=JALAN.
Pelaksanaan :
Aba‑aba pelaksanaan diberikan waktu kaki kiri iatuh di tanah,
kemudian ditambah satu langkah di tempat dan mulai berjalan dengan
menghentakkan kaki kiri setengah langkah ke depan dan selanjutnya
berjalan biasa.
4) Dari jalan di tempat ke berhenti
Aba‑aba : HENTI=GRAK.
Pelaksanaan :
Aba‑aba pelaksanaan diberikan pada waktu kaki kiri jatuh ke tanah,
setelah ditambah satu langkah selanjutnya kaki kiri dirapatkan, kemudian
mengambil sikap sempurna.
Catatan :
Kaki satu dengan yang lainnya hendaknya diangkat sejajar.
m. Berhenti
Aba‑aba : HENTI=GRAK.
Pelaksanaan :
Aba‑aba melaksanaan diberikan pada waktu kaki kiri jatuh ke tanah
setelah ditambah satu langkah selanjutnya kaki kiri dirapatkan kemudian
mengambil sikap sempurna.
n. Hormat Kanan / Kiri
1) Gerakan hormat kanan/kiri
Aba‑aba: HORMAT KANAN/kiri=GERAK
Pelaksanaan
Gerakan ini di lakukan pada waktu berjalan dengan langkah tegap.
Aba‑aba pelaksanaan diberikan pada waktu kaki kiri jatuh di tanah,
kemudian ditambah satu langkah. Langkah berikut, Pandangan mata
diarahkan kepada yang diberi hormat.
Penjuru kanan/kiri tetap=melihat ke depan untuk memelihara arah.
Setelah arah pandangan yang diberi hormat mencapai sudut 450 dari
pandangan lurus ke depan, maka kepala dan pandangan mata tetap pada arah
tersebut hingga mendapat aba‑aba “TEGAK= GERAK”
Lengan tetap melenggang.
2) Gerakan selesai menghormat.
Aba‑aba: TEGAK=GERAK.
Pelaksanaan
Aba‑aba pelaksanaan diberikan pada waktu kaki kiri jatuh ke tanah.
Setelah ditambah satu langkah, langkah berikutnya dihentakkan. Bersaman
dengan itu lengan dilenggangkan biasa, muka dan pandangan mata kembali
seperti biasa.
Catatan:
Pada waktu memalingkan kepala dagu ditarik.
5. Perobahan Arah
a. Perobahan arah dalam keadaan berhenti.
Pelaksanaan:
Kaki kiri/kanan diajukan melintang di depan kaki kanan/kiri, lekuk
kaki kiri/kanan berada di ujung kaki kanan/kiii berat badan berpindah ke
kaki kiri/kanan. Tumit kaki kanan/kiri dengan badan diputar ke kanan
90°.
Kaki Idri/kanan dirapatkan kembali ke kaki kanan/ kiri seperti keadaan bersiap.
(2) Hadap serong kanan/kiri.
Aba‑aba: HADAP SERONG KANAN/KIRI=GRAK.
Pelaksanaan :
Kaki kiri/kanan diajukan ke muka sejajar dengan kaki kanan/kiri.
Berputar arah 45° ke kanan/kiri
Kaki kiri/kanan dirapatkan kembali ke kaki kanan/ kiri.
(3) Balik kanan.
Aba‑aba : BALIK KANAN = GRAK.
Pelaksanaan :
Pada aba‑aba pelaksanaan, kaki kiri diajukan melintang (lebih dalm
dari hadap kanan) di depan kaki‑kanan. Tumit kaki kanan beserta badan
diputar ke kanan 180°.
Kaki kiri dirapatkan pada kaki kanan.
Gerakan‑gerakan perobahan arah dalam keadaan berhenti ini tetap
digunakan pula sebagai gerakan perobahan arah dalarn keadaan sedang
berjalan, dengan keterangan bahwa : Dalam keadaan berhenti maka hitungan
ketiga, kaki dirapatkan untuk kembali mengambil sikap sempurna.
Dalam keadaan sedang berhenti ke berjalan, maka waktu melakukan
perobahan arah, pada hitungan ketiga, kaki kanan/kiri tidak dirapatkan
melainkan dilangkahkan ½ langkah dengan hentakan ke arah yang
dikehendaki oleh aba‑aba peringatan.
(4) Buka barisan.
Aba‑aba : BUKA BARISAN=JALAN.
Pelaksanaan :
Pada aba‑aba pelaksanaan banjar kanan dan kiri masing‑masing membuat
satu langkah ke samping kanan dan. kiri, sedangkan banjar tengah tetap
di tempat.
(5) Tutup barisan.
Aba‑aba : TUTUP BARISAN=JALAN.
Pelaksanaan :
Pada aba‑aba Pelaksanaan banjar kanan dan kiri masing‑masing membuat
satu langkah kembali ke sarnping kiri dan kanan. Sedangkan banjar tengah
tetap di tempat. Buka/tutup barisan hanya dilakukan dalam bentuk
barisan berbanjar.
Membuka barisan dengan membuat 1 langkah ke samping masing‑masing
oleh banjar kid dan kanan, telah dianggap cukup untuk memberikan tempat
berjalan bagi pemeriksa bila hendak melakukan pemeriksaan.
(6) Haluan kanan/kiri.
Aba‑aba : HALUAN KANAN / KIRI=JALAN.
Pelaksanaan :
Setelah aba‑aba pelaksanaan penjuru kanan/kiri berjalan di tempat
dengan memutarkan arah secara perlahan‑lahan hingga merobah arah sebesar
90°. Bersaman dengan itu; masing‑masing saf mulai maju jalan dengan
rapih lengan tidak melenggang sambil mcluruskan safnya hingga merobah
arah 90° kemudiaii berjalan di tempat.
Setelah penjuru kanan/kiri dengan melihat lurusnya saf, ia memberi
isyarat : “LURUS”, kemudian Pelatih/ Pemimpin barisan memberi aba‑aba :
HENTI=GRAK yang diucapkan pada waktu kaki kiri/kanan jatuh di tanah,
setelah ditambah satu langkah kemudian seluruh barisan berhenti.
(7) Melintang Kanan/Kiri
Gerakan ini hanya dilakukan dalam bentuk berbanjar, guna merubah bentuk barisan menjadi bersaf dengan arah tetap.
Aba‑aba : MELINTANG KANAN/KIRI=JALAN.
Pelaksanaan :
Setelah aba‑aba pelaksanaan melakukan gerakan “Hadap kanan/kiri” kemudian barisan membuat gerakan “Haluan kiri/kanan.
b. Perobahan Arah dari Berhenti ke Berjalan
1) Hadap kanan/kiri maju jalan.
Aba‑aba : HADAP KANAN/MAJU=JALAN
Pelaksanaan :
Membuat gerakan hadap kanan/kiri. Pada hitungan ketiga kaki kiri
tidak dirapatkan tetapi dilangkahkan seperti gerakan maju jalan.
2) Balik kanan maju jalan.
Aba‑aba : BALIK KANAN MAJU=JALAN
Pelaksanaan :
Pada aba‑aba pelaksanaan, kaki kiri diajukan melintang (lebih dalam
dari pada hadap kanan) di depan kaki kanan, turnit kaki kanan beserta
badan diputar ke kanan 1800 kaki kiri tidak dirapatkan tetapi
dilangkahkan seperti gerakan maju jalan.
3) Belok kanan/kiri maju jalan.
Aba‑aba : BELOK KANAN/KIRI MAJU=JALAN.
Pelaksanaan :
Penjuru depan merobah arah 90° ke kanan/kiri dan mulai berjalan ke
arah tertentu. Lainnya mengikuti gerakan ini setibanya pada tempat
belokan tersebut.
Aba‑aba : DUA KALI BELOK KANAN/KIRI=JALAN.
Pelaksanaan :
Seperti tersebut di atas yang selanjutnya setelah dua langkah berjalan kemudian melakukan gerakan belok kanan/kiri jalan lagi.
Aba‑aba : TIAP‑TIAP BANJARAN DUA KALI BELOK KANAN/KIRI=JALAN.
Seperti tersebut di atas, tetapi tiap‑tiap banjar membuat langsung
dua kali belok kanan/kiri pada tempat di mana aba‑aba pelaksanaan
diberikan . Perobahan arah ini 180°.
Tujuan gerakan dari catatan a dan b guna membelokkan barisan di ruang/lapangan yang sempit.
4) Bubar.
Aba‑aba : BUBAR=JALAN.
Pada aba‑aba pelaksanaan, barisan serentak memberi hormat kepada
pimpinan barisan. Sesudah dibalas kembali mengambil sikap sempuma
kemudian melakukan “BALIK KANAN GRAK” dan setelah menghitung dua
hitungan dalam hati melakukan gerakan seperti langkah pertama Ialu
bubar.
5) Haluan kanan/kiri.
Aba‑aba : HALUAN KANAN/KIRI MAJU=JALAN
Pelaksanaan :
Seperti haluan kanan/kiri dari gerakan perubahan arah dalam keadaan
berhent~ kemudian setelah ada “Lurus” dari penjuru Pelatih/Pemimpin
barisan memberi aba‑aba : Maju=JALAN, barisan maju jalan dan gerakannya
seperti gerakan langkah biasa.
6) Melintang kanan/kiri.
Aba‑aba : MELINTANG KANAN/KIRI=JALAN.
Pelaksanaan :
Seperti melintang kanan/kiri dari gerakan perubahan arah dalam
keadaan berhenti, kemudian setelah penjuru memberi aba‑aba “LURUS”
Pelatih/Pemimpin barisan memberi aba‑aba “MAJU=JALAN”, barisan
melaksanakan gerakan Maju Jalan.
c. Perobahan Arah dari Berjalan ke Berjalan
1) Hadap kanan/kiri maju jalan.
Aba‑aba : HADAP KANAN/KIRI MAJU=JALAN.
Pelaksanaan :
Aba‑aba pelaksanaan dijatuhkan pada waktu kaki kiri/kanan jatuh ke
tanah, kemudian ditaMbah satu langkah gerakan selanjutnya seperti
gerakan perubahan arah dari berhenti ke berjalan.
2) Balik kanan maju jalan.
Aba‑aba : BALIK KANAN MAJU=JALAN.
Pelaksanaan :
Aba‑aba pelaksanaan dijatuhkan pada waktu kaki kiri/kanan jatuh ke
tanah, kemudian ditambah satu/dua langkah, gerakan selanjutnya kaki kiri
melintang ke depan kaki kanan, secara bersamaan tumit kaki kanan dan
badan berputar 180°, kaki kiri dihentakkan seperti langkah pertama,
selanjutnya berjalan seperti langkah biasa.
3) Belok kanan/kiri.
Aba‑aba : BELOK KANAN/KIRI = JALAN.
Pelaksanaan :
Aba‑aba pelaksanaan dijatuhkan pada saat kaki kiri/kanan jatuh di
tanah setelah ditambah satu langkah, kemudian penjuru depan merobah
arahnya 90° ke kanan/kiri dan mulai berjalan ke arah yang baru. Lainnya
mengikuti gerakan ini setibanya pada tempat belokan tersebut.
Pelaksanaan :
Seperti tersebut di atas yang selanjutnya setelah dua langkah bedalan kemudian melakukan gerakan belok kanan/kiri jalan lagi.
Aba‑aba : TIAP‑TIAP BANJAR DUA KALI BELOK KANAN/KIRI JALAN.
Seperti tersebut di atas, tetapi tiap‑tiap banjar membuat langsung
dua kali belok kanan/kiri pada tempat di mana aba‑aba pelaksanaan
diberikan perobahan arah ini 180°.
Tujuan gerakan guna membelokkan barisan di ruang / lapangan yang sempit.
4) Haluan kanan/kiri maju jalan
Aba‑aba : HALUAN KANAN/KIRI MAJU=JALAN.
Pelaksanaan :
Aba‑aba pelaksanaan dijatuhkan pada waktu kaki kanan/kiri jatuh ke
tanah dan, kemudian ditambah satu langkah. Selanjutnya melakukan gerakan
seperti pada perubahan arah dari berhenti ke berjalan.
Perubahan arah pada waktu berjalan yang telah ditentukan di muka
dapat dilakukan juga oleh barisan dalam keadaan berlari dengan perbedaan
bukan ditambah satu/dua langkah, tetapi tiga langkah.
5) Melintang kanan/kiri
Aba‑aba : MELINTANG KANAN/KIRI MAJU
Pelaksanaan :
Setelah aba‑aba pelaksanaan, dan ditambah satu langkah, barisan
melakukan gerakan seperti pada perubahan arah dari berhenti ke berjalan.
d. Perobahan Arah dari Berjalan ke Berhenti
1) Hadap kanan/kiri berhenti
Aba‑aba : HADAP KANAN/KIRI HENTI=GRAK.
Pelaksanaan :
Aba‑aba pelaksanaan dijatuhkan pada waktu kaki kiri/ kanan jatuh di tanah, kemudian ditambah satu langkah, gerakan selanjutnya.
a) Kaki kiri/kanan diajukan melintang di depan kaki kanan/kiri, lekuk
kaki kiri/kanan berada di ujung kaki kanan/kiri, berat badan berpindah
ke kaki kiri/kanan.
b) Tumit kaki kanan / kiri dengan badan diputar ke kanan/kiri 90°.
c) Kaki kiri/kanan dirapatkan kembali ke kaki kanan/kiri seperti keadaan bersiap.
2) Hadap serong kanan/kiri
Aba‑aba : HADAP SERONG KANAN/KIRI HENTI = GRAK.
Pelaksanaan :
Aba‑aba pelaksanaan dijatuhkan pada waktu kaki kiri/kanan jatuh di tanah, kemudian ditambah satu langkah, gerakan selanjutnya :
a) Kaki kiri/kanan diajukan ke muka sejajar dengan kaki kanan/kiri.
b) Berputar arah 45° ke kanan/kiri.
c) Kaki kiri/kanan dirapatkan kembali ke kaki kanan/kiri.
3) Balik kanan berhenti Aba‑aba: BALIK KANAN HENTI=GRAK. Pelaksanaan
Aba‑aba pelaksanaan diberikan pada waktu kaki kiri/ kanan jatuh di
tanah, kemudian ditambah satu/dua langkah, gerakan selanjutnya.
a) Kaki kiri diajukan melintang (lebih dalam dari hadap kanan) di depan kaki kanan.
b) Tumit kaki kanan beserta dengan badan diputar ke kanan 180`.
c) Kaki kiri dirapatkan pada kaki kanan.
4) Haluan kanan/kiri
Aba‑aba: HALUAN KANAN/KIRI=JALAN.
Pelaksanaan :
Aba‑aba pelaksanaan diberikan pada waktu kaki kanan/kiri jatuh di
tanah, kemudian ditambah satu langkah, selanjutnya barisan melakukan
gerakan sebagai berikut.
a) Penjuru kanan/kiri berjalan di tempat dengan memutar arah secara perlahan‑lahan sehingga merobah arah sampai sebesar 90°.
b) Bersamaan dengan itu masing-masing saf mulai maju jalan dengan
rapih sambil meluruskan safnya hingga merobah arah sebesar 90°, kemudian
berjalan di tempat.
c) Setelah Penjuru kanan/kiri depan melihat lurusnya saf, ia memberi
isyarat “LURUS”, kemudian Pelatih/Pemimpin barisan memberi aba‑aba
“HENTI=GRAK” Yang diucapkan pada waktu kaki kiri/kanan jatuh di tanah.
Setelah ditambah satu langkah kaki kiri/kanan dirapatkan pada kaki
kanan/kiri dan mengambil sikap sempurna.
5) Melintang kanan/kiri
Aba‑aba : MELINTANG KANAN/KIRI=JALAN.
Pelaksanaan :
Aba‑aba pelaksanaan dijatuhkan pada waktu kaki kiri/ kanan jatuh di
tanah, setelah ditambah satu langkah bariisan selanjutnya melakukan
gerakan “Hadap kanan/kiri” dan kemudian melakukan gerakan Haluan kanan/
kiri.
III. PENUTUP
Baris berbaris adalah salah satu wujud latihan fisik guna menanamkan
disiplin yang diarahkan kepada terbentuknya suatu watak tertentu dan
latihan awal bagi peserta didik dalam rangka bela negara, sesuai dengan
hak dan kewajiban setiap warga negara Indonesia seperti yang tercantum
dalam Undang-Undang Dasar 1945.
Surat undangan resmi kegiatan pramuka seperti undangan tamu ambalan,
undangan orang tua undangan bantara memang seharusnya sudah siap sebelum
melaksanakan kegiatan pramuka.
Namun kendala yang sering dihadapai adalah kurangnya pengalaman
individu tentang membuat undangan dan bahasa penulisan serta komposisi
undangan resmi karena mungkin anggota atau sangga kerja baru di lantik,
sehingga untuk membuat macam macam jenis undangan resmi kegiatan pramuka
akan kesulitan.
Berikut contoh undangan acara pramuka yang di buat oleh pramuka SMAN 1 SAGARANTENsukabumi untuk memperingati hari bumi. semoga bisa menginspirasi kalian dalampembuatan surat undangan.
GERAKAN PRAMUKA
GUGUS DEPAN KAB. SUKABUMI 4015-4016
AMBALAN JENDRAL BESAR SOEDIRMAN DAN RD. DEWI SARTIKA
PANGKALAN SMAN 1 SAGARANTEN
Jl. SMA No.32 Kecamatan Sagaranten Kabupaten Sukabumi Tlp. (0266)341002
Batang Masumai, Januari 2012
Nomor : /RDS-JBS/2013
Lampiran : -
Perihal : Undangan
Kepada :
Yth. …………………………………………………
Di tempat.
Assalamualaikum Wr. Wb.
Salam Pramuka, berkaitan dengan kepedulian kami terhadap
lingkungan.akan mengadakan kegiatan “MEMPERINGATI HARI BUMI”. Yang akan
diselenggarakan pada :
Hari : Minggu
Tanggal : April 2013
Tempat : Lapang sawit tunggal-Sagaranten
Dengan ini kami mengundang Bapak/Ibu/Kakak Pembina untuk mengikuti
acara tersebut dan atas kerjasamanya serta dukungannya kami ucapakan
terima kasih.
Pemprov Sumbar Naikan Anggaran Pramuka Rp2M per Tahun
dok.minangkabaunews
Wakil Gubernur, Muslim Kasim, akan menambah anggaran pramuka
menjadi dari 800 Juta Menjadi 2 milyar per-tahun untuk menunjang
berbagai kegiatan pramuka .
“Selama ini dirasakan kurang perhatian pemerintah terhadap
gerakan pramuka, sesuai amanat undang-undang, paling kurang 2-3 persen
Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD) diberikan untuk pramuka.
selama ini hanya Rp800 juta per-tahun, tahun ini kita upayakan menjadi 2
miliar,” katanya. kepada wartawan minangkabaunews 16 Des 2012
Dikatakannya, peningkatan anggaran untuk pramuka ini juga sesuai amanat presiden di Bandung beberapa waktu lalu.
“Demikian juga hendaknya kwartil Kabupaten/Kota agar Bupati/Walikota
juga menganggarkan lebih besar untuk pramuka. Serta lebih menggiatkan
gerakan pramuka di sekolah-sekolah yang ada termasuk sekolah terpencil
sekalipun, sebab melalui pramuka terbentuk generasi yang siap jadi
pemimpin,” katanya.
Berita gembira ini tidak urung juga disambut baik semua hadirin,
terdari dari pengurusan Dewan Kerja Daerah (DKD) Kwartir Daerah 03
Gerakan Pramuka Sumbar masa bakti 2007-2012, Delegasi Dewan Kerja Cabang
(DKC) 19 Kabupaten/Kota, bupati dan walikota se-Sumbar, Kepala Dinas
Pemuda dan Olahraga Sumbar, dan para tamu undangan lainnya.
Ketua DKD Kwartir Daerah 03 Gerakan Pramuka Sumbar masa bakti
2007-2012, Marlis Rahman, mengatakan, peningkatan anggaran tersebut
merupakan kabar yang sangat mengembirakan bagi Kwartir Daerah 03 Gerakan
Pramuka Sumbar, “Mudah-mudahan dengan peningkatan anggaran tersebut
juga semakin meningkatkan prestasi kita,” katanya.
Macam Bentuk Barisan Upacara Pramuka Siaga,Penggalang,Penegak
Macam Bentuk atau formasi barisan dalam Gerakan Pramuka siaga
penggalang dan penegak masing masing berbeda, sebagai mana telah di atur
berdasarkan PP tentang Upacara dalam Gerakan Pramuka.
Bahwa semua upacara dalam Gerakan Pramuka mengandung unsur-unsur
pokok tertentu, salah satunya adalah bentuk barisan menurut golongannnya
( S, G, T dan D )
Bentuk barisan yang digunakan oleh peserta upacara ( Pada Upacara
Pembukaan dan Penutupan Latihan ) selalu disesuaikan dengan perkembangan
jiwa peserta didik.
Berikut Bentuk barisan dalam gerakan pramuka sesuai pramukanet.org adalah sbb :
1) Bentuk barisan upacara di satuan Pramuka Siaga adalah lingkaran,
karena perhatian dan perkembangan jiwanya masih terpusat pada orang
tua/ Keluarga atau Pembina.
2) Bentuk barisan upacara di satuan Pramuka Penggalang adalah
bentuk angkare, karena perhatian dan perkembangan jiwanya telah mulai
terbuka.
3) Bentuk barisan upacara di satuan Pramuka Penegak dan Pramuka
Pandega adalah bersaf, karena perhatian dan perkembangan jiwanya sudah
terbuka luas.
Apabila peserta upacara itu terdiri dari dua golongan atau lebih,
maka bentuk barisan yang digunakan ditentukan oleh pimpinan upacara atau
pengatur upacara sesuai dengan keadaan setempat, Seperi Upacara pindah
golongan, upacara peringatan hari besar/ hari Pramuka dll
Jenis tumbuhan dan hewan yang
bisa dimakanan bagi petualang seprti pramuka ketika berada di alam bebas
” hutan, gunung” adalah bekal pengetahuan penting yang harus di miliki
oleh setiap individu pramuka atau survival yang sering berpetualang
menyambangi hutan liar dan gunung.
Dibutuhkani ilmu Biologi dan Zoologi praktis bagi pramuka untuk membedakan makanan mana yang aman dan berbahaya jika dikonsumsi di alam bebas ketika dalam kondisi dan keadaan tertentu di alam terbuka.
Salah satu penunjang bagi perlindungan tubuh yang berasal dari dalam
tubuh adalah makanan yang dibutuhkan untuk menambah kalori, memberikan
tenaga pada otot, and mengganti sel – sel yang rusak.
Inilah Sumber – sumber makanan yang bisa dimakan ketika berada di
hutan versi majalah pramuka online tunaskelapa.com yang bisa anda
jadikan bahan pengetahuan sebelum memulai petualangan :
1. Larva kumbang
. Biasanya larva ini hidup di dalam kayu yang membusuk. Mereka bisa
disantap langsung. Namun bila jijik, silakan dibakar di atas kayu
bakar.
2. Burung
Semua jenis burung bisa dimakan, Anda bisa membakarnya di atas api
unggun sebelum dimakan.Tapi ada satu hal yang perlu diperhatikan.
Jangan pernah memakan burung pemakan bangkai, seperti burung nasar
karena rasanya tidak enak
3. Rayap
Serangga yang biasa ditemukan di kayu ini bisa dimakan. Ada yang
mengatakan rasanya seperti selai kacang Rayap juga menjadi pilihan
makanan yang baik karena mengandung protein yang cukup tinggi
4. Katak
Biasanya bagian yang diambil adalah kaki karena memiliki daging yang
tebal. Namun, ada hal yang penting diingat sebelum menyantap katak.
Jangan lupa untuk menguliti tubuhnya sebelum dimakan. 5. Kadal dan ular
Kaki belakang dan ekor kadal adalah bagian terbaik untuk dimakan. Namun,
jika Anda ingin memakan ular, sebaiknya segera potong kepalanya setelah
dimatikan karena inilah bagian paling berbahaya. 6. Jangkrik dan belalang Jangkring dan
belalang adalah cemilan di beberapa negara di dunia, seperti Thailand.
Bahkan, warga Gunung Kidul di Yogyakarta pun menjadikan belalang sebagai
salah satu bahan makanan. 7. Semut Selain jangkrik
dan belalang, serangga lain yang bisa Anda jadikan bahan makan adalah
semut. Di Thailand, semut adalah salah satu makanan yang dianggap paling
lezat. Kumpulkan semut yang ada di hutan, kemudian bakar atau pun
goreng di atas wadah.
8.Makanan dari tumbuhan Tumbuhan terutama memberikan karbohidrat dan seratnya memperlancar pencernaan. Contoh tumbuhan yang dapat dimakan :
Umbi : talas, kentang, besusu, paku tanah
Batang : umbut muda pisang, sagu, rumput madu, rebung.
Buah : kelapa, arbei, strawbery hutan, nipah, dll
Biji : padi, jagung, rumput teki madura
Bunga : turi, pisang
Daun : rasamala, melinjo, tangkai dan daun begonia ,daun selada air ( arnong )
Tunas / pucuk : cemara.
Berati- hatilah saat memilih dan mengetahui makanan yang bisa di konsumsi aman di alam bebas
Cara Unik Menetukan Arah Saat Tersesat Di Hutan Malam Hari
Ilustrasi Merdeka
Mencari jalan keluar ketika kehilangan arah atau tersesat di tengah
hutan atau gunung ketika berpetualang atau mencari jejak “SAR” adalah
hal yang paling menakutkan, dengan penerangan yang nyaris tidak ada
serta perlengkapan alat (Kompas) yang mungkin tidak terbawa atau rusak
sangat sulit untuk kita tahu arah utara dan selatan.
Untuk bisa keluar dari gelapnya hutan saat malam hari yang segala
kemungkinan buruk bisa terjadi seperti gangguan binatang buas,
terperosok ke jurang serta bahaya lainya maka kalian di tuntut harus
cepat menemukan cara agar bisa selamat seperti meminta pertolongan
dengan membuat sandi morse dari alat seadanya seperti asap api unggun
atau bunyi bunyian yang bisa terdengar sampai jauh.
Bila bantuan tak kunjung datang maka lakukanlah cara cara berikut untuk keluar dari gelapnya hutan saat tersesat.
1. Jarum/Silet di permukaan air
Ada cara yang paling umum digunakan seseorang untuk menentukan
arah, yaitu membuat kompas sederhana. Caranya mudah, hanya bermodalkan
jarum atau silet yang digosok ke permukaan kering, dan ditusukkan ke
gabus. Gabungan silet dan gabus kemudian diletakkan di atas permukaan
air, sehingga terlihat mengapung. Ujung silet atau jarum pada kompas
sederhana ini selalu menunjuk ke arah utara atau selatan.
2. Melihat kuburan Islam dan Kristen
Jika berada di suatu pedesaan yang asing dan tersesat di sana.
Anda bisa menentukan arah dengan melihat kuburan. Kuburan Islam dan
Kristen selalu menunjukkan arah utara-selatan. Bagian nisan atau kepala
yang selalu menghadap ke barat. Jadikanlah ini sebagai patokan dasar.
3. Masjid/Musholla
Jika tidak menemukan kuburan, Anda bisa mencari tempat ibadah,
seperti masjid. Anda bisa memanfaatkan arah kiblat atau arah sholat umat
muslim. Di Indonesia, masjid selalu menghadap ke arah barat, karena
ka’bah yang dijadikan kiblat umat muslim berada di barat Indonesia.
Manfaatkan ini sebagai patokan dasar menentukan arah selanjutnya.
4. Memanfaatkan pohon
Nah, untuk Anda yang tersesat di kawasan penuh pepohonan, cobalah
cari pohon yang berbatang besar. Perhatikan setiap sisi batang pohon
ini. Sisi pohon berbatang besar yang terkena sinar matahari dan tidak
berlumut menunjukkan arah barat/timur. Jika tersesat pada malam hari,
coba raba sisi pohon berbatang besar ini, dan rasakan suhunya. Cari sisi
pohon yang terasa paling hangat. Sisi ini menunjukkan arah barat.
5. Kelompok bintang Orion menunjukkan arah barat
Hal yang paling menakutkan adalah tersesat di daerah asing pada malam
hari. Saat itu penerangan sangat minim, ditambah tidak adanya kompas,
bisa membuat siapa saja panik. Tapi coba manfaatkan keindahan alam lewat
taburan bintang di langit. Carilah rasi bintang orion. Rasi bintang ini
merupakan perpaduan 3 bintang terang. Jika dipadukan, ketiganya
membentuk mirip ekor kalajengking dan selalu menunjuk ke arah barat.
Catatan: Lakukanlah penandaan di pohon atau batu yang telah di lewati, agar tidak mengulang jalan yang sama terus menerus
Surat pramuka yang meliputi Proposal pramuka, surat permohonan, surat
izin kegiatan pramuka, surat izin orang tua serta surat undangan
pramuka merupakan syarat wajib yang harus di lengkapi sebelum mengadakan
kegiatan pramuka seprti Jambore Nasional, pelantikan bantara, lomba
tingkat atau DIKSARCABA.
Namun Kendala yang di hadapai oleh panitia atau pengurus (DKR, Sangga
Kerja, dll) yang baru di lantik atau baru pertama kali terjun dalam
kegiatan besar pramuka adalah kebinggungan saat membuat atau menulis
proposal kegiatan.
Berikut ini contoh Proposal kegiatan pramuka yang di buat oleh wildan
rahmatullah untuk kegiatan lomba tingkat II(LT II) Kecamatan Bojongsari
tahun 2012 kemain di blog pribadinya yang bisa anda jadikan pedoman
penulisan proposal kegiatan pramuka di sekolahan anda. PROPOSAL KEGIATAN LOMBA TINGKAT II (LT II) GERAKAN PRAMUKA KWARRAN 03-14 KEC.BOJONGSARI DI BUMI PERKEMAHAN MUNJUL LUHUR KEC BOJONGSARI 16 s.d. 18 JULI 2012 PANITIA LOMBA TINGKAT II GERAKAN PRAMUKA KWARRAN 03-14 KEC BOJONGSARI TAHUN 2012 PROPOSAL KEGIATAN LOMBA TINGKAT II ( LT II ) GERAKAN PRAMUKA KWARRAN 03-14 KECAMATAN BOJONGSARI DI BUMI PERKEMAHAN MUNJUL LUHUR KARANGBANJAR 16 s.d. 18 JULI 2012 I.PENDAHULUAN
Dalam rangka menumbuhkembangkan minat dan semangat adik-adik penggalang
di bidang kepramukaan, Kwarran 03-14 Kecamatan Bojongsari bermaksud menyelengga-
rakan kegiatan rutin setiap dua tahun sekali,yaitu Lomba Tingkat II yang lazim disebut
LT II Gerakan Pramuka.
Kegiatan ini selain untuk merealisasikan program kerja Kwartir Ranting juga
dimaksudkan untuk mengetahui tingkat kemampuan adik-adik penggalang dalam
menyerap pengetahuan kepramukaan melalui latihan-latihan di gugus depan.Selain
tujuan tersebut di atas,LT II Gerakan Pramuka juga dimaksudkan untuk menyongsong
Hari Jadi Gerakan Pramuka yang ke-52 dan memeriahkan Hari Ulang Tahun
Republik Indonesia yang ke-67. II.MAKSUD DAN TUJUAN A.Maksud Kegiatan
1.Ikut berpartisipasi dalam menumbuhkan minat generasi muda untuk mencintai
Gerakan Pramuka.
2.Ikut serta memeriahkan Hari Ulang Tahun Republik Indonesia yang ke-67.
3.Ikut serta menyukseskan program pemerintah di bidang pembinaan generasi
muda. B.Tujuan Kegiatan
1.Memeriahkan Hari Jadi Gerakan Pramuka ke-52.
2.Merealisasikan Program Kerja Kwarran 03-14 Bojongsari Tahun Bhakti 2012.
3.Sebagai evaluasi kegiatan gugus depan di lingkungan Kwarran 03-14 Kec.
Bojongsari. III.MANFAAT KEGIATAN
Manfaat kegiatan Lomba Tingkat II adalah :
1.Sebagai tolok ukur keberhasilan pembinaan terhadap adik-adik penggalang dalam
menyerap ilmu yang diberikaan oleh pembina di gugus depan masing-masing dan
anggota Dewan Kerja Ranting Kecamatan Bojongsari.
2.Sebagai ajang pertemuan para pembina,anak didik,dan insan Pramuka lainnya.
3. Menanamkan pendidikan karakter bangsa bagi peserta didik.
4.Sebagai hiburan masyarakat sekitar tempat kegiatan. IV.PELAKSANA,WAKTU,DAN TEMPAT KEGIATAN
1.Pelaksana
Kegiatan ini dilaksanakan oleh Kwartir Ranting 03-14 Kecamatan Bojongsari.
Sedangkan pelaksanaannya diserahkan sepenuhnya kepada Panitia Lomba
Tingkat II ( LT II ) Kwartir Ranting 03-14 Kecamatan Bojongsari sekaligus
selaku pemegang mandat.Panitia wajib melaporkan hasil kegiatan maksimal
7 ( tujuh ) hari setelah kegiatan berakhir.
2.Waktu dan Tempat Kegiatan
Lomba Tingkat II ( LT II ) tahun 2012 Kwartir Ranting Kecamatan Bojongsari
Dilaksanakan dengan ketentuan sebagai berikut :
a.Tempat : Bumi Perkemahan Munjul Luhur Karangbanjar
Kecamatan Bojongsari.
b.Waktu : 16 s.d. 18 Juli 2012
c.Keterangan : Dalam rangkaian kegiatan ini dimungkinkan banyak
menggunakan lokasi dan fasilitas umum yang berada
di sekitar tempat kegiatan. V.SIFAT KEGIATAN
Kegiatan ini bersifat lomba untuk memperebutkan kejuaraan dengan satu
buah Tropy Bergilir untuk juara umum putra dan satu buah untuk juara
umum putri. Selain itu juga disediakan piala bagi para pemenang atau
juara pada bidang tertentu. VI.ASPEK MANAGEMEN
1.Susunan Panitia Kegiatan.( terlampir )
2.Rencana Anggaran Pendapatan dan Belanja Kegiatan.( terlampir )
3.Jadwal dan materi kegiatan.( terlampir )
4. Daftar Juri perlombaan ( terlampir ) VII.PESERTA KEGIATAN DAN KETENTUANNYA
Kegiatan ini diikuti oleh seluruh Gugus Depan yang berpangkalan di SD/MI
yang berada di jajaran Kwartir Ranting 03-14 Kecamatan Bojongsari.
Ketentuan-ketentuan peserta LT II sebagai berikut :
1.Setiap gugus depan wajib mengirimkan peserta LT II dengan kekuatan 2 (dua)
regu,putra dan putri serta beranggotakan masing-masing 10 pramuka penggalang
dengan didampingi 1 orang Pembina Putra bagi regu putra dan 1orang Pembina
Putri bagi regu putri.
2.Peserta adalah Penggalang Rakit yang dibuktikan dengan SKU Penggalang
Rakit. VIII.HIMBAUAN
Pelaksanaan Lomba Tingkat II Gerakan Pramuka Kwartir Ranting 03-14
Kecamatan Bojongsari ini akan terselenggara dengan baik bila semua yang terkait
seperti UPT Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kecamatan Bojongsari, Kantor
Pengawas Pendidikan Agama Islam Kecamatan Bojongsari ikut berperan secara
aktif serta adanya dukungan moril maupun material dari pemerintah setempat.
Oleh karena itu, kami Panitia LT II mengimbau kepada semua pihak agar
memberikan dukungan agar pelaksanaan LT II dapat terselenggara secara optimal
dan berdaya guna sesuai dengan keinginan kita bersama. IX.PENUTUP
Demikian proposal ini kami sampaikan agar pembaca yang peduli dengan kegiatan
ini bisa mendapatkan gambaran secara rinci dan transparan.
Bojongsari, 22 Juni 2012
PANITIA LOMBA TINGKAT II
GERAKAN PRAMUKA KWARRAN 03-14
KECAMATAN BOJONGSARI
Mengetahui
a.n.Ka Kwarran 03-14
Kecamatan Bojongsari Ketua, Sekretaris,
Kumpulan Contoh Soal Pramuka Siaga, penggalang,penegak Edisi Terbaru
doc.kompas
Soal Soal dalam lomba pramuka, atau cerdas cermat pramuka Jawabanya
banyak sekali mengambil dari materi materi pramuka, seperti sejarah
pramua, nama bapak pandu dunia, arti lambang lambang kepramukaan dan
lain lain.
Namun Semudah apapun soal yang kita kerjakan di saat lomba akan
terasa sulit karena pengaruh mental yang ngdrop duluan saat
mengarjakanya dan melihat waktu yang tersa sebentar seta pengawas yang
ketat.
Berikut contoh contoh soal-soal pramuka untuk latihan kalia sebelum
mengerjakan soal aslinya yang di rangkum oleh majalah tunaskelapa dari
BukuSoalnet.
01. Siapakah yang membantu bp masuk kemiliteran ( pamannya kol.henry smyth)
02. Apa pangkat paman bp saat bp masuk militer ( komandan royal military academy di woolwich )
03. Dinegara manakah bp pertama kali ditempatkan setelah lulus di militer ( India )
04. Apa pengkat bp saat tugas di India ( pembantu letnan )
05. Siapa sahabat dekat bp ( Kenneth mc laren)
06. Apa julukan bp yang diberikan oleh bangsa zulu ( impeesa )
07. Buku apa yang ditulis oleh bp yang menjadi masterpiece ( scouting for boys )
08. Siapakah istri bp ( olave st .clair soames )
09. Siapakah nama anak dari bp ( peter ,heather, betty )
10. Pada tanggal berpakah bp dianugrahi gelar lord ( 6 agustus 1920)
11. Pada tanggal berapakah bp mengunjugi Bataviasekarang jakarta ( 3 desember 1934 )
12. Pada tanggal berapakah buku scouting for boys diterbitkan ( 15 januari 1908 )
13. Dimanakah bp meninggal ( nyeri , Kenya )
14. Tanggal berpakah bp meninggal ( 8 januari 1941 )
15. Siapa yang membantu bp dalam mendirikan kepanduan untuk puteri ( Agnes baden powell)
16. Apa judul buku yang ditulis bp untuk meningkatkan kualitas para penegak ( rovering to success )
17. Siapakah yang memberi tanah untuk dijadikan taman tempat bermain dan berlatih ( William f debois mc.laren )
18. Apa nama taman yang bp buat ( gilwell park )
19. Patung apakah yang sering dinaiki para pandu untuk bermain di gilwell park ( patung singa )
20. Dimanakah kantor pusat biro kepanduan dunia ( jenewa , swiss )
21. Apa nama kepanduan saat masa hindia belanda ( NIPV)
22. Apa kepanjangan NIPV ( Nederland indische padvinders vereniging )
23. Peristiwa apakah yang menjiwai majunya gerakan pramuka ( sumpah pemuda )
24. Organisasi apa yang menjadi latar belakang gerakan pramuka ( boedi oetomo )
25. Kapan boedi oetomo didirikan ( 20 mei 1908 )
26. Kapan peristiwa sumpah pemuda ( 28 oktober 1928 )
27. Siapakah yang mencetuskan nama pandu atau kepanduan ( KH.agus salim)
28. Dikota manakah KH.agus salim mencetuskan nama kepanduan ( banjarnegara,banyumas,jateng )
29. Kepres no berapakah tentang gerakan pramuka ( no 238)
30. Siapa yang menadatangani kepres tersebut ( Ir. H juanda )
31. Apa sebutan pramuka di singapura ( the Singapore scout association)
32. Apa sebutan pramuka di Malaysia ( persekutuan pengakap Malaysia )
33. Apa sebutan pramuka di Filipina ( Kapatiran scouting Filipinas)
34. Apa sebutan pramuka Di India ( the bharat scout and guides )
35. Apa sebutan pramuka Di amerika ( boy scout of America )
36. Pramuka memiliki 3 sifat yaitu ( nasional,internasional,universal )
37. Didalam try satya ada enam kewajiban ( terhadap tuhan,Negara kesatuan,pancasila,sesama hidup,masyarakat,dasa dharma)
38. Siapa bapak pandu sedunia ( sir Robert Stephenson smyth baden powellof gilwell )
39 Lulusan manakah baden powell ( charterhouse school )
40. Pangakat terakhir boden powell di kemiliteran ( letnan jendral )
41. Kapan b p dilahirkan ( 22 februari 1857 )
42. Dimakah bp dilahirkan ( London inggris )
43. Siapakah yang memberi gelar kebangsawanan sir ( raja george v )
44. Siapakah ayah bp ( prof. domine baden poiwell )
45. Apa pekerjaan ayah bp ( guru besar geometri di univ.oxford )
46. Siapakah nama ibu bp ( henrieta grace smyth )
47. Siapakah nama ayah dari ibu bp ( William t smyth )
48. Siapakah nama saudara bp (warrington,george,augustus,frank,penrose,agnes,Henrietta,Jessie,dan baden fletcher)
49. Tanggal berapakah ayah bp meninggal ( 11 juni 1860 )
50. Apa julukan bp semasa sekolah di charterhouse ( bathing towel)
Demikian contoh soal-soal pramuka yang bisa kalian jadikan bahan
latihan atau belajar kelompok. Jika ada yang belum mengerti silahkan
tanyakan melalui komentar facebook di bawah ini.
Contoh Naskah Pidato Singkat Bahasa Inggris Pradana Pramuka
Pidato atau sambutan memang sangat identik dengan acara besar dan
resmi, seperti hari kemerdekaan, perpisahan, ulang tahun atau acara
sekolah dan pramuka seperti pidato pembukaan jabore dll.
namun sayangnya bagi sebagian orang pidato adalah hal yang paling
susah dan menakutkan, tak jarang jika seseorang menolah jika di suruh
untuk mengisi sambutan atau berpidato dengan berbagai alasan.
ada 2 jenis dalam berpidato singkat atau mengisi sambutan
1.pidato memakai bahasa indonesia
2. memakai bahasa inggris.
Nah yang paling susah adalah jika sesorang harus berpidato dengan
bahasa inggris karena para tamu undangan yang hadir kebanyakan dari luar
negri sedangkan untuk merangkai kata dalam bahasa indonesia masih susah
.
Berikut contoh naskah pidato versi bahasa inggriss yang di buat oleh siswa MTS N Talaga Majalengka Rosi Nasution.
Assalamualaikum wr wb
First of all I would like to ask you “Are happy? Are you happy?” Yes, we are happy.
Thanks to Allah, the only one supreme God, shalawat and regard to
Prophet Muhammmad SAW, his closed friends, family and to all of us as
his followers.
Dear, big brothers and sisters and all friends of the scouts
family, let scream a yell for the glory of Indonesian scout. Go
Indonesian scouts,… Go Indonesian scouts,… Go Indonesian scouts,….
Dear, big brothers and sisters and all friends of the scouts
family, in here, we are gathering not for having fun or going picnic,
but we are prepared to implement the ten principles of scout, known as
dasa darma pramuka. The principles guide us to be relegious, discipline,
skilled, having good hospitality, thrift, and cheerful. And we know
that it is not easy to come along with them.
We have to dare to say “ We’re ready to come along with the
principles” and immediately, we do them but not only in this situation
but also in our daily life. The soul of scout should be always existing
in our feelling and mind. Now, let ask ourselves how far we go with the
principles. If we are too far away from them, from now, let’s take the
first step the get the better life with the better quality human.
Being scouts, is not merely a tradition of a nation living in
certain country. We need scouts, and need to be a scouts Because we need
to keep upgrading our life. And the values of the ten scout principles
will help us.
Dear, big brothers and sisters and all friends of the scouts family,
We know that we are good boy scouts and girl scouts. And were all happy people.
Thank you.
Assalamualikum wr wb.
Semoga bermanfaat untuk andik andik pramuka semuanya
Tongkat pramuka memiliki ukuran panjang 160 cm dan
diameter 5 Cm ini memiliki banyak fungsi untuk anak pramuka siaga,
penggalang. Tongkat berbahan bambu atau kayu yang selalu di bawa oleh
anak pramuka ini tidak semata-mata untuk bergaya atau asesoris yang
tidak memiliki arti dan tujuan.
Alasan mengapa pramuka memakai tonkat??,
Pramuka itu sangat dekat dengan alam sehingga tak jarang anak
pramuka menelusuri alam bebas atau mengembara ke hutan, gunung dalam
kegiatanya, maka seorang pramuka memerlukan alat dan senjata yang
mempunyai multi fungsi.
Berikut adalah daftar 17 kegunaan tongkat pramuka versi majalah pramua TunasKelapa.com, diantaranya :
Sebagai tiang tenda/tenda darurat (bivac).
Sebagai tiang bendera.
Sebagai tempat sepatu.
Sebagai alat penghalau hewan liar, misalnya untuk anjing galak.
Untuk menyebrangi selokan (pendek dan dangkal).
Sebagai tiang jemuran.
Untuk membuat tandu (blankar/ dragbar).
Untuk membuat jembatan kecil.
Untuk memadamkan api.
Untuk membantu mengukur jarak, tinggi, dsb.
Sebagai kawan diwaktu mendaki.
Sebagai alat berpegang di malam hari agar tidak mudah tergelincir.
Untuk beristirahat (bisa untuk duduk/dibuat kursi darurat.
Untuk kelengkapan baris-berbaris.
untuk alat bela diri.
Untuk memanjat tembok yang tinggi.
Untuk mengukur dalamnya suatu kolam, dan masih banyak lagi.
Maka gunakan dan rawatlah tongkat pramuka yang kamu miliki dengan
baik, layaknya sodaramu sendiri. Karena banyak sekali manfaat yang bisa
kamu dapat. (
Contoh Naskah Drama Malin Kundang Versi Inggris Untuk Pramuka
Naskah ” teks” drama pramuka siaga dan penggalang seperti kisah
cinderella, malingkundang yang di mainkan lebih dari 5 orang memang
cocok sekali untuk di perankan oleh anak pramuka pada acara kepramukaan
seperti lomba drama, api unggun, dan lain lain.
Namun akan lebih menarik dan unik jika drama tersebut di perankan
dalam versi bahasa inggris, susah kak bahasa inggrisnya belum fasih dan
pinter….., Dijaman canggih seperti sekarang ini bahasa inggris bukan hal
susah untuk di pelajari, banyak fasilitas yang bisa kamu gunakan untuk
belajar bahasa inggris seperti Kamus Elektrik, dan google translite.
Untuk lebih gampangya berikut ini ada contoh naskah drama
malinkundang yang telah di translite ke bahasa inggris oleh Lestari R di
blog pribadinya.
MALIN KUNDANG
Once upon a time, there lived an old woman with her son, named Malin. They lived suffered and hanged with the forest yield.
Mom : “Malin, come here son, help me to carry this firewoods.”
Malin : “Yes mom, wait a minute.” (Malin helped his mother)
Malin : “Mom how long will this last? I want some change.”
Mom : “I don’t know malin, we must be patient and don’t stop praying to God.”
Malin : “Mom, I have an idea, would you let me go away to change my fortune? Who knows I will be a rich man.”
Mom: …
Malin and his mother come back to the home, but his Mother just kept silent about his idea. After they had
ARRIVED AT HOME
Malin : “Mom, how about my idea?”
Mom : “I think it’s not good idea my son, because if you go, who will Watch me here, don’t you love me, Malin.”
Malin : “But mom, if I don’t change my fortune when
will it last? I Promise mom, if I Could be a rich man, I will come back.
Just relax mom, I will talk to Dayat,Dayat will watch you until I come
back to home.”
Malin’s mother couldn’t forbid what Malin want. So, she Agreed With Malin’s idea.
Mom : “Alright, it that you go away, Malin! But don’t forget me. And remember your promise”
Malin went to Dayat house for asked him to watched Malin’s
mother until he came back and asked Dayat his planed to went away for
change his fortune. Dayat is best friend of Malin. They always be
together.
Dayat : “what happen, malin?”
Malin : “tomorrow I want to go away for change my fortune.”
Dayat : “what? if you go, who will Watch your mother here.”
Malin : “for this I come to you, I want to you watch my mother until I come back, please.”
Dayat : “yes, certainly. My message for you, don’t forget we in here, Malin.”
In a next day, Malin’s mother accompaneid her son to the harbour…
Mom : ” Take care your self, and hurry up come back!
Malin : ” Yes mom, please pray for me, so that I can
be a rich man. And You Dayat Please take care my mother until I come
back.”
Dayat : “Don’t worry Malin. I promise, I will take care your mother. Be careful.”
Mom : “good bye my son.”
Dayat : “Good bye, Malin.”
Finally, Malin went for sailing with a rich man. In the ship,
the Captain gave him a job as crew,and Malin received the job. The
captain has the beautiful daughter. Malin active worked so much. He
worked without know tired.Malin always think the owner’s daughter. Her
name is Ningrum. She is very beautiful.
Malin : “She is very beautiful. I like her and I must marry her. If that something Happen, I will be a rich man.”
Ningrum : “hy, do you look for my dad?
Malin : “ehmmmmm, I don’t know. Maybe he is go to kitchen.”
Ningrum : “thanks for your information.”
Malin : “you’re welcome.”
In the village, mom very concerned about Malin’s life. And mom afraid if Malin not came back.
Mom : “Dayat, where is Malin? I miss my son. I am afraid if Malin not come back.”
Dayat : “don’t be afraid, Mom. Malin will come back.
He had promised to come back. Be patient, Mom. I’m in here. Don’t be
concerned.”
Mom : “yes, Dayat.”
One day, the captain called malin, because he will
rised Malin’s job become as captain in that ship. A few years later,
Malin has became a rich man
Malin : “haha, now, I am a rich man. I can buy everything with my money. Now I must marry with Ningrum.
Malin’s mom very miss her son. Mom tired for waited Malin came
back. Dayat always give support for Malin’s mom that Malin will came
back and was a rich man.
Dayat : “Don’t sad, Mom.”
Mom : “I am tired, Dayat. I am tired for waiting Malin come back. We never get a news about Malin.”
Dayat : “I trust mom, Malin will come back and be a rich man.
Mom : “are you sure, Dayat?”
Dayat : “yes, mom. Don’t sad again mom J”
After Malin has became a rich man, Malin married with the
captain daughter, Ningrum. They are very happy. They are a romantic
couple.
Malin : Hello, my honey, what about you think?
Ningrum : My husband,shall we go on trip to island for honeymoon?
Malin : That’s good idea my wife, how about Dua Angsa Island?
Ningrum : Okay my husband, I agree with you!
Malin : Okay! if you agree, we will start tomorrow.
Tomorrow, Malin and his wife sailed to Dua Angsa Island. On
their way, Malin’s ship stop in an island to top up Their supplies.
Fortunatelly, that Island was Malin’s village. When arrived, Malin go
out from his ship. Dayat saw Malin in the harbour.
Dayat : “ Malin… Is that Malin? Yeah, that’s Malin. I must tell it to his mother.”
Dayat went to house for ask Mom about Malin came
back. Dayat is very happy about Malin came back. If the Mom know about
this news, she was happy.
Dayat : “Mom…Mom…”
Mom : “I’m here Dayat.”
Dayat : “Mom, Malin come back. He has become a rich man now!”
Mom : “Are you sure that you look is Malin?”
Dayat : “Yes, I’m sure mom, impossible I can’t forget his face. I still remember his Face.”
Mom : “If you right, please accompany me to go there.”
And Dayat accompanied Malin’s mother to her son. When Reached There, Malin’s mother meet his son.
Mom : “Malin… Malin my son! Malin….”
Ningrum : “Who is that old woman, my husband?”
(Malin can’t answered Ningrum’s question)
Ningrum : “who is she, my husband?”
Mom : Malin, who is her? Is she your wife? She is very beautiful,come here…!
Ningrum : “argh, don’t touch me!”
Malin : “Don’t touch her! You are dirty, her skin can be dirty too!”
Ningrum : “Who is that old woman? Is she your mother? She is very dirty.”
Malin : “I don’t know, my wife…!”
Mom : “Malin, my son. Do you remember about your promise? I’m your mother!”
Malin : “Who are you poor old woman? I don’t know you. My mother isn,t dirty like you…!!
Mom : “Malin… I’m your mother. I have reveal and raise you. Malin… Malin…!”
Ningrum : “Hei you, go away now.”
Mom : “Malin… Malin…!”
Malin : “Go away… Go away now!”
Dayat : “MALIN! Do you forget your mother? Do you forget me, your best friend? This is your mother, malin.”
Malin : “I don’t know who are you and the old woman. I don’t have best friend like you.”
Dayang : “you’re evil. You disobedience to your mother.”
Mom : “can you remember me, son? I am your mother.”
Dayat : “remember your mother, please. She is always wait you to come back. Remember your promise, Malin.”
(Malin dragged his mother be rude until his mother drop down)
Malin : Don’t call me as your son, dirty old woman…! come on, my wife. We must go from this place.”
Ningrum : “yes, my husband.”
(After pushing his mother away, Malin came back to his ship)
Mom : Malin… Malin… Don’t leave your mother Malin…!
My God, how could you say that? I can’t take his any more. I curse you…
Turn into a stone…!!
After that, suddenly coming storm destroying Malin’s ship,flash of Lightning coming to his body. And…
Malin: What’s happening? My body… I can’t move! Mom… I’m sorry mom… I’m sorry…!!!
Ningrum: What’s happening…?? What’s happen to you, my husband? Why…??!!MALINNNNNNN!!!!!
And Malin became a stone when he was begging to his mother.
Ship,crew and his wife sunk down to boottom of the sea. That’s result if
we rebellious to our parents
especially to our mother.
Semoga contoh teks atau naskah drama di atas bisa bermanfaat, Jangan mudah putus asa dan Salam pramuka Salam Tunas Kelapa